Remaja Rentan Terpapar Radikalisme, Orang Tua Bisa Terapkan Prinsip Connection before Correction
Peran orang tua yang bersahabat menjadi kunci dalam membentuk nalar kritis dan ketahanan remaja terhadap berbagai pengaruh negatif.
Psikososial
Tugas utama masa remaja, menurut Erikson (1968), adalah menghadapi krisis identitas versus kebingungan identitas, atau identitas versus kebingungan peran (ldentity Vs. ldentity/role Confusion).
"Keluarga, khususnya orang tua, menjadi garda terdepan dalam membentengi anak-anak dari pengaruh paham radikal yang terus berkembang," tutur Direktur Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Dr. Edi Setiawan.
Ia mengatakan, kejadian di SMK 72 Jakarta itu menjadi bukti bahwa faham radikalisme telah merasuki anak dan remaja di Indonesia.
Dari laporan analis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Haris Fatwa Dinal Maula, ancaman terorisme dan radikalisme masih nyata di Indonesia sepanjang tahun 2025.
Tercatat sebanyak 10 penangkapan terkait terorisme, dengan pola ancaman yang tidak selalu berupa aksi anarkis, tetapi berkembang secara masif melalui perekrutan dan penyebaran konten di media sosial.
Sejak Januari hingga Agustus 2025, tercatat 6.402 konten bermuatan radikalisme dan terorisme yang beredar di ruang digital.
“Generasi muda jadi target utama karena faktor kebutuhan validasi atau pengakuan untuk berdaya,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tim-jibom-dan-gegana-melakukan-penyisiran-terhadap-10-sekolah.jpg)