Pedagang Es Gabus Dianiaya
Soal Kasus Es Gabus, YLBHI: Perlu Dibawa ke Ranah Hukum Bukan Sekadar Minta Maaf
YLBHI desak kasus intimidasi pedagang es gabus diproses hukum, bukan sekadar permintaan maaf aparat.
Untuk itu, pihak Kodim 0501/JP dan Polres Metro Jakarta Pusat telah menemui pedagang es Sudrajat di rumahnya di wilayah Desa Rawa Panjang Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor untuk menyelesaikan permasalahan itu.
Dari pertemuan itu telah dilaksanakan permohonan maaf dari seluruh pihak terkait, pemberian santunan dan makan malam bersama, serta pernyataan bahwa permasalahan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.
Pihak Kodam Jaya juga berharap tidak ada tuntutan atau konflik berkepanjangan yang timbul setelah pertemuan tersebut.
Terkini, pada Rabu (28/1/2026) pihak Bid Propam Polda Metro Jaya menyatakan masih melakukan pemeriksaan terhadap Aiptu Ikhwan.
Sementara itu, Babinsa Kelurahan Utan Panjang Kecamatan Kemayoran yang juga diduga turut terlibat dalam perkara tersebut, Serda Heri, telah menemui Suderajat di kediamannya bersama jajaran pimpinan Kodim 0501/JP dan Polres Metro Jakarta Pusat untuk meminta maaf.
Pengakuan Suderajat
Suderajat mengaku masih mengalami trauma usai dituduh memakai bahan baku spons pada es yang dijual di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat pada Sabtu (24/1/2026) lalu.
Diberitakan TribunnewsDepok.com sebelumnya, akibat tuduhan itu, pria yang akrab disapa Ajat itu mengaku dianiaya hingga dagangannya dihancurkan oleh sejumlah oknum dari aparat setempat.
Kini, Ajat memutuskan untuk berhenti berjualan karena takut mengalami hal yang sama.
Ajat juga mengaku sudah tiga hari tidak memiliki penghasilan pasca kejadian.
Selain itu, Ajat juga mengaku, sang istri kerap memarahinya.
"Takut saya ditimpuk lagi, dikeroyok, takut entar saya mati," kata dia saat ditemui di kediamannya di Bojonggede, Kabupaten Bogor pada Selasa (27/1/2026).
Dia juga mengaku saat kejadian digampar, dipukul, dan ditendang menggunakan sepatu boots oleh beberapa pelaku.
Ajat juga mengaku dagangannya juga dibejek-bejek hingga hancur dan dilempar ke arah mukanya.
"Muka saya dilempar pake es kue, saya luka nih goresan berdarah," kata Ajat di kediamannya.
Padahal Ajat mengaku sudah menjelaskan bahwa dagangannya tidak beracun dan asli buatan pabrik rumahan di Depok, Jawa Barat.
Akan tetapi, kata dia, warga dan aparat di lokasi tidak percaya hingga akhirnya penganiayaan tersebut terjadi.
"Mereka enggak minta maaf, saya dicuekin. sempat dibawa mobil polisi, buat jelasin es kue ini asli atau palsu," ujar dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Muhammad-Isnur-YLBHI.jpg)