Sabtu, 30 Agustus 2025

Kuliner Bipang Ambawang

Polemik Bipang Ambawang yang Dipromosikan Jokowi: Mendag Kena Sentil hingga Ngabalin Nilai Tak Salah

Soal polemik bipang Ambawang yang dipromosikan Jokowi, Mendag kena sentil PDIP hingga Ngabalin menilai pernyataan Presiden tak salah.

Editor: Daryono
Tangkap Layar YouTube Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo (Jokowi) silaturahmi dengan perwakilan keluarga awak KRI Nanggala-402 di Lanudal Juanda, Sidoarjo, Kamis (29/4/2021). 

TRIBUNNEWS.COM - Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mempromosikan sejumlah kuliner khas daerah Indonesia, menuai polemik karena menyebut bipang (babi panggang) Ambawang.

Diketahui, bipang Ambawang merupakan kuliner khas dari Kalimantan Barat.

"Untuk Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasanya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online," kata Jokowi dalam video yang dilihat Tribunnews.com, Sabtu (8/5/2021).

"Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, empek-empek Palembang, bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya tinggal pesan, dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah," imbuhnya.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (Tribunnews.com/ Reynas Abdila)

Terkait pernyataan tersebut, Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, meminta maaf karena telah menimbulkan kesalahpahaman.

Baca juga: Harga Bipang Ambawang, Makanan Khas Kalimantan yang Dipromosikan Jokowi dan Tuai Polemik

Baca juga: Video Jokowi Promosikan Bipang Ambawang Viral di Medsos, Ini Kata Mendag

Ia mengatakan tak ada maksud apapun dalam pernyataan Jokowi yang mempromosikan sejumlah kuliner khas nusantara.

"Meskipun demikian, kami dari Kemendag selaku penanggungjawab dari acara tersebut, sekali lagi memastikan tidak ada maksud apapun dari pernyataan Bapak Presiden."

"Kami mohon maaf sebesar-besarnya bila terjadi kesalahpahaman," ujar Lutfi dalam pernyataannya yang disiarkan YouTube Kementerian Perdagangan, Sabtu.

Meski Lutfi telah meminta maaf atas polemik yang muncul, ia mendapat kritikan dari politisi PDIP, Mufti Anam.

Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam.
Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam. (HandOut/Istimewa)

Mufti menilai seharusnya promosi khas kuliner Indonesia yang menyebut bipang Ambawang, tak dikaitkan dengan konteks mudik.

Menurutnya, akan lebih tepat jika promosi itu terkait Hari Bangga Buatan Indonesia (HBBI).

“Presiden Jokowi adalah pecinta kuliner lokal, pecinta UMKM. Tapi tentu beliau tidak hafal nama puluhan ribu jenis kuliner di tanah air."

"Mendag Lutfi mestinya paham kalau mau bikin gerakan seperti itu, jangan malah bekerja tidak teliti sehingga membuat Pak Jokowi terpojok,” tutur Mufti dalam pernyataan yang diterima Tribunnews.com, Sabtu.

Lebih lanjut, Mufti menilai evaluasi menyeluruh perlu dilakukan terhadap kinerja Kementerian Pemandangan.

Ia pun mempertanyakan langkah teknis sebelum video promosi kuliner khas nusantara tersebut ditayangkan.

Baca juga: Jubir Presiden Jelaskan soal Bipang yang Dimaksud Jokowi

Baca juga: Viral di Medsos Setelah Dipromosikan Jokowi, Apa Itu Bipang Ambawang? Kenapa Jadi Kontroversial?

"Kenapa tidak dicek script-nya, kenapa tidak dicek sebelum dipublikasikan?"

"Apa ada maksud ingin mendiskreditkan Presiden?" tandasnya.

Maman Imanulhaq Terkejut

Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH Maman Imanulhaq.
Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH Maman Imanulhaq. (Istimewa)

Sementara itu, anggota Komisi VIII DPR I, Maman Imanulhaq, mengaku kaget saat mendengar Presiden Jokowi mempromosikan kuliner bipang Ambawang di tengah momen mudik menjelang Hari Raya Idulfitri 1442 H.

Ia pun menyayangkan pernyataan Jokowi yang menyebut bipang Ambawang bisa jadi satu diantara kuliner yang bisa dipesan secara online saat ini.

"Bagaimana mungkin dalam konteks ucapan lebaran, imbauan jangan mudik dan oleh-oleh khas lebaran sangat tidak etis Presiden malah menyebutkan makanan yang haram dikonsumsi umat Islam," katanya pada Sabtu (8/5/2021), dilansir Tribunnews.

"Tapi apapun jenis kulinernya, yang berbahan bahkan ada unsur babi nya itu adalah haram."

"Tidak boleh dikonsumsi. Tidak boleh dipakai," tegas dia.

Ia pun meminta Jokowi untuk mengevaluasi tim komunikasi agar kejadian serupa tak terulang lagi.

“Pembuat brief dan teks dalam pidato Presiden adalah pihak yang paling bertanggung jawab," pungkasnya.

Baca juga: Mendag Minta Maaf, Video Promosi Kuliner Jokowi Picu Kesalahpahaman 

Baca juga: Polemik Pidato Presiden, SAS Institute: Pendukung Jokowi Jangan Memperkeruh Keadaan

Ngabalin Menilai Tak Ada yang Salah

Ali Mochtar Ngabalin melaporkan dua orang  atas dugaan pencemaran nama baik ke Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (3/12/2020).
Ali Mochtar Ngabalin melaporkan dua orang atas dugaan pencemaran nama baik ke Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (3/12/2020). (Tribunnews.com/Vincentius Jyestha)

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin, menilai pernyataan Presiden Jokowi soal kuliner nusantara tak ada yang salah.

Mengutip Tribunnews, Ngabalin mengungkapkan pernyataan yang diberikan Jokowi adalah bagian dari acara Kementerian Perdagangan dalam rangka mempromosikan kuliner khas Indonesia.

"Acara ini adalah acara yang digelar oleh Departemen Perdagangan dalam rangka mempromosikan, kan kita cinta pada produk-produk nusantara kita," ujarnya dalam program Sapa Indonesia Malam, dikutip dari YouTube Kompas TV, Sabtu (8/5/2021).

"Jadi memang kalau bicara soal lebaran, orang mengidentikkan dengan pulang kampungnya orang Islam," lanjut dia.

Ia pun meminta agar masyarakat menyikapi insiden ini secara tenang.

Ngabalin juga menegaskan, pada libur Hari Raya Idulfitri mendatang, tak hanya umat Muslim yang berlibur.

Sebagai informasi, bertepatan dengan Lebaran, yakni tanggal 13 Mei 2021, umat Kristiani juga merayakan kenaikan Isa Al Masih.

Karena itu, Ngabalin menilai pernyataan Jokowi tak salah.

"Kalau dilihat dari orang mulai berlibur, kan bukan orang Islam yang hanya menggunakan waktu liburnya."

Baca juga: Silaturahmi dengan Berbagai Komunitas, Ketua DPD RI Ingin Kawal Pembangunan Jokowi Sampai Selesai

Baca juga: PBNU: Tes Wawasan Kebangsaan Melenceng, Menjijikkan dan Langgar HAM, Jokowi Harus Batalkan

"Yang mudik ini bukan hanya orang Islam," papar Ngabalin.

"Tidak ada yang perlu difilter, pernyataan itu tidak ada yang salah, salahnya di mana?" tandasnya.

Baca artikel Polemik Bipang Ambawang lainnya

(Tribunnews.com/Pravitri Retno W/Taufik Ismail/Willy Widianto/Febby Mahendra/Nuryanti)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan