Cak Imin Bongkar Obrolannya dengan Gus Dur, Beberkan BTS Isu Kudeta PKB yang Dilontarkan Yenny Wahid
Menurut Cak Imin, isu dirinya mengkudeta Gus Dur dari jabatan Ketua Umum PKB yang dilontarkan Yenny Wahid, adalah tidak benar.
Penulis:
Pravitri Retno Widyastuti
Editor:
Tiara Shelavie
TRIBUNNEWS.com - Calon wakil presiden Anies Baswedan sekaligus Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, bicara soal isu kudeta yang dituduhkan kepadanya.
Selama ini, Cak Imin dituding telah mengkudeta Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari jabatan Ketua Umum PKB lewat Musyawarah Luar Biasa (MLB) yang digelar di Ancol, Jakarta Utara pada 2-4 Mei 2008.
Cak Imin sendiri telah diberhentikan dari jabatannya sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz PKB berdasarkan pengambilan suara saat rapat internal pada 26 Maret 2008.
Isu kudeta ini dilayangkan oleh keluarga Gus Dur, terutama putri kedua almarhum, Yenny Wahid.
Menurut Cak Imin, isu kudeta tersebut selalu muncul setiap lima tahun sekali, saat gelaran pemilihan umum (pemilu).
Baca juga: Alissa Wahid Ingatkan Cak Imin: Setop Jualan Nama Gus Dur untuk Cari Dukungan Politik
Terkait tuduhan itu, Cak Imin menganggapnya sama sekali tidak beralasan.
"Narasi itu tiap 5 tahun selalu muncul. Setiap Pemilu dimunculkan," kata Cak Imin dalam acara Mata Najwa yang tayang pada Senin (4/9/2023).
"Tetapi, tuduhan saya berkhianat itu sama sekali tidak beralasan," imbuh dia.
Cak Imin lantas membongkar behind the scene atau cerita di belakang layar konflik PKB pada 2008 silam.
Saat itu, menjelang Pemilu 2009, PKB mengalami kendala untuk mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena muncul dualisme di tubuh partai.
Cak Imin mengungkapkan, PKB yang dipimpin Ali Masykur dan Yenny Wahid sebagai Sekretaris Jenderal, ngotot ingin mendaftar ke KPU padahal kepemimpinan mereka tidak sah.
Di tengah terancamnya PKB tak bisa ikut Pemilu 2009, Cak Imin dipanggil oleh Gus Dur.
Ia diminta Gus Dur untuk mengisi draft surat pengunduran diri yang sudah dibuat sebelumnya.
Tak ada penolakan, Cak Imin mengaku langsung menandatangani surat tersebut.
"Hampir gagal pendaftaran, Gus Dur manggil saya. Gus Dur malah kaget, 'Saya nggak nyangka kamu saya berhentikan'."
"'Mau Gus, buat apa saya berantem. Capek'. 'Ya sudah kamu bikin surat pengunduran diri sekarang'."
"'Siap'. 'Ini sudah ada draft-nya'. 'Siap, saya tanda tangan'," kisah Cak Imin menirukan ucapan Gus Dur.
Namun setelahnya, menurut Cak imin, Gus Dur justru memintanya menyimpan surat itu.
Baca juga: BREAKING NEWS: Bukan Pekan Depan, Besok KPK Panggil Cak Imin Jadi Saksi di Kasus Kemnaker
Menurut Cak Imin, Gus Dur memerintahkan dirinya agar mengeluarkan surat tersebut jika benar-benar dibutuhkan.
Tetapi, hingga Gus Dur berpulang pada 30 Desember 2009, Cak Imin mengaku tak pernah diminta mengeluarkan surat pengunduran itu.
Bahkan, surat tersebut masih ada di tempatnya sampai sekarang.
"Semua orang belum tahu, yang terjadi adalah (Gus Dur mengatakan), 'Surat saya terima Min, tapi tolong kamu sendiri yang simpan. Nanti kamu keluarkan kalau saya benar-benar membutuhkan'," urai Cak Imin.
"Sampai hari ini, tidak pernah diminta Gus Dur surat itu, ada di tempat saya. Ini behind the scene yang sebetulnya," kata dia.
Karena itu, Cak Imin meminta agar tak lagi melayangkan tudingan dirinya telah mengkudeta Gus Dur.
"Jangan dibalik-balik saya mengkudeta Gus Dur, saya yang dikudeta, tetapi saya terima. Itulah yang terjadi," tegas dia.
Cak Imin: Pengangkatan Yenny Wahid saat Itu Tidak Sah

Cak Imin lantas bicara soal isu kudeta di tubuh PKB menurut versinya.
Ia mengaku sebenarnya yang dikudeta pada 2008 silam, adalah dirinya.
Kudeta itu, ungkap Cak Imin, dilakukan oleh sejumlah pihak yang berujung pada keputusan Gus Dur menghentikannya.
"Ada yang bilang saya kudeta. Yang benar adalah bahwa justru saya dikudeta, dikudeta oleh orang-orang yang kemudian Gus Dur memberhentikan saya," ujar Cak Imin.
Meski demikian, ia mengaku menerima keputusan tersebut dan tak melawan.
Bahkan, menurut Cak Imin, hanya ia satu-satunya orang yang tak melawan keputusan Gus Dur saat itu.
Baca juga: Saling Bantah Cak Imin dan Yenny Wahid soal Kudeta Gus Dur dari PKB
"Bahkan saya dengan ikhlas berhenti dari Ketua Umum, saya nonaktif hampir satu tahun. Saya menyatakan terima atas pemberhentian Gus Dur."
"(Sikap saya) termasuk yang paling langka. Semua orang yang dipecat Gus Dur melawan, satu-satunya Ketua Umum yang dipecat Gus Dur tidak melawan, hanya saya," bebernya.
Ikhlasnya sikap Cak Imin ditunjukkan dengan menerima kepemimpinan Ali Masykur dan Yenny Wahid.
Meski demikian, Cak Imin menyebut selama kepemimpinan Ali dan Yenny, PKB menghadapi masalah lantaran tidak bisa mendaftar ke KPU sebagai peserta Pemilu 2009.
Pasalnya, kata Cak Imin, kala itu PKB kubu Yenny Wahid tak memiliki Ketua Umum.
Padahal, menurut Cak Imin, tanda tangan Ketua Umum PKB yang sah di PKB adalah tanda tangannya.
"Dalam proses kepemimpinan Ali Masykur dan Yenny, itu hasil kudeta terhadap saya, dan saya terima nggak ada masalah."
"Tapi, di situ karena nggak legitimate, nggak ada ketua umum, maka harus mengganti ketua umum supaya bisa mendaftar ke KPU," ujar dia.
"Karena harus daftar ke KPU, maka yang sah di KPU adalah tanda tangan saya sebagai Ketua Umum dan Yenny sebagai Sekjen, maka dititiktemukan supaya bisa mendaftar. (Tapi) itu tidak mau, tidak bisa terjadi," imbuh Cak Imin.
Demi memuluskan langkah PKB menjadi peserta Pemilu 2009, Cak Imin pun mengajukan gugatan untuk meresmikan kepemimpinan PKB di mata hukum.
"Kita cari jalan supaya PKB bisa daftar. Jalan yang paling singkat itu apa? Legalitas. Legalitas atas kepemimpinan."
"Pengangkatan Yenny sebagai Sekjen itu nggak sah. Karena Yenny diangkat bukan (dari hasil) Muktamar, Yenny diangkat Sekjen di tengah jalan," urai Cak Imin.
Proses legalitas itu lantas menghasilkan putusan Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan kepemimpinan Ali Masykur dan Yenny Wahid tidak sah.
"Dari situlah penggantian Sekjen Yenny kembali ke Sekjen yang asal, Lukman Edy."
"Di situ KPU menerima, akhirnya sah bisa ikut Pemilu," pungkas dia.
Baca juga: Komentar PDIP soal Pemanggilan Cak Imin oleh KPK, Pastikan Jokowi Tak Terlibat: Sungguh Menyedihkan
Yenny Wahid Ogah Dukung Anies-Cak Imin

Konflik PKB terpecah menjadi dua kubu hingga saat ini masih terus berlanjut, bahkan memanas jelang Pemilu 2024.
Baru-baru ini, Yenny Wahid menegaskan tidak akan mendukung pasangan capres dan cawapres Anies Baswedan dan Cak Imin.
Pernyataan ini disampaikan Yenny Wahid yang mengingatkan kudeta terhadap Gus Dur yang terjadi pada 2008 silam.
"Akan sulit sekali bagi kami mendukung capres yang bersanding dengan orang yang pernah mengkudeta Gus Dur. Sulit, posisi kami sulit," kata Yenny Wahid di Kantor Pengurus Besar NU (PBNU), Jakarta, Selasa (5/9/2023).
"Muktamar Ancol kurang apa terang benderangnya, di situ Gus Dur diganti, di situ Gus Dur dikudeta," tegas dia.
Karenanya, dia menambahkan pilihan politik pihaknya antara mendukung Ganjar Pranowo dan Prabowo di Pilpres 2024.
"Ya pilihan politiknya tinggal dua dan sedang kami olah, kami melakukan proses komunikasi dengan kedua kelompok tersebut, kelompoknya Pak Prabowo dan Pak Ganjar," ucap Yenny.
Seperti diketahui, NasDem telah mendeklarasikan pasangan Anies-Cak Imin pada Sabtu (2/9/2023), di Hotel Majapahit, Surabaya, Jawa Timur.
Dalam deklarasi itu, Ketua Umum NasDem, Surya Paloh melontarkan pujiannya kepada Cak Imin.
Menurut Paloh, Cak Imin tak kalah piawai dari Anies Baswedan.
Ia memuji Cak Imin sebagai organisatoris yang ulung di era pergerakan.
Karena itu, Paloh beranggapan sosok Anies dan Cak Imin saling melengkapi satu sama lain ibarat botol bertemu tutup.
"Dan juga mempunyai kepiawaian yang tidak kalah samannya dengan Bung Anies Baswedan. Maka kedua pasangan ini bagaikan botol dan tutup botol itu," kata Surya Paloh diikuti tepuk tangan dari peserta deklarasi.
Ia pun optimis, duet Anies-Cak Imin akan menjadi yang pertama mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Paloh juga optimis, Anies dan Cak Imin bisa terpilih menjadi pemimpin baru Indonesia.
"Insyaallah, pilihan kita bersama pada hari ini. Kalau saudara melihat wajah saya, saya menyatakan optimisme saya yang penuh," ujar dia.
"Saya ingin menyatakan insyaallah, kita memiliki pemimpin baru ke depan nanti," imbuhnya.
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W/Fersianus Waku/Yohanes Liestyo)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.