Minggu, 31 Agustus 2025

Pakar Pendidikan: Kecerdasan Buatan Buka Peluang Siswa Mempelajari STEM Secara Kritis

Pakar pendidikan Gary Lim, teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat mendorong siswa berpikir kritis. 

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Wahyu Aji
Handout/IST
BELAJAR KECERDASAN BUATAN - Sebanyak 300 peserta pemimpin pendidikan, pengambil keputusan, pendidik, dan influencer dari berbagai sekolah di Indonesia yang menggunakan teknologi Google dalam pembelajaran mengikuti acara G-Schools Indonesia Summit (GSIS) 2025 pada Sabtu (8/32025), di IPEKA BSD. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar pendidikan Gary Lim, teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat mendorong siswa berpikir kritis

Head of Education & Channels Global Workspace for Education di Google for Education ini mengatakan GSIS 2025 memberikan pengalaman luar biasa bagi para peserta. 

Fokus utama GSIS 2025 adalah pada pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), yang bertujuan untuk membekali siswa dengan keterampilan beradaptasi, berpikir kritis, berinovasi, serta memecahkan masalah secara bijaksana dan kreatif.

"Bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi semua pemimpin dan pendidik yang hadir. Saya dapat mengatakan bahwa peluang belajar yang diberikan sangat berguna dan aplikatif bagi semua peserta," ungkap Gary melalui keterangan tertulis, Minggu (16/3/2025).

Acara ini dihadiri lebih dari 300 peserta, termasuk pemimpin pendidikan, pengambil keputusan, pendidik, dan influencer dari berbagai sekolah di Indonesia yang menggunakan teknologi Google dalam pembelajaran. 

IPEKA BSD, yang merupakan Sekolah Rujukan Google pertama di Asia Tenggara, menjadi lokasi pilihan untuk acara bergengsi ini.

Dengan tema "AI: The New Frontier in Education", GSIS 2025 bertujuan untuk menggali lebih dalam implementasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan. 

Pepita Gunawan, Founder dan Managing Director REFO, juga menekankan bahwa GSIS 2025 merupakan kelanjutan dari acara serupa tahun lalu. 

"Selain sebagai ajang pembelajaran, GSIS adalah wadah bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk berjejaring dan membangun sistem dukungan yang kuat," ujarnya. 

Pepita menambahkan bahwa AI membuka batasan-batasan baru dalam pendidikan yang sebelumnya tak terbayangkan. 

"Kita harus terus meningkatkan literasi AI kita agar bisa beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi ini," katanya.

Baca juga: Teknologi AI Permudah Pembuatan Laporan Keuangan Keluarga Lewat Whatsapp

Setiap tahunnya, REFO mengajak semua insan pendidikan, baik yang sudah menggunakan teknologi Google maupun yang belum, untuk bersama-sama memanfaatkan teknologi, termasuk AI, secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan