Rabu, 13 Mei 2026

Waspada Potensi Serangan Teror, BNPT Gagas Gerakan 'Siap Jaga Indonesia'

Radikalisme kini tinggal selangkah dari jari jempol, menyelinap dari satu tautan ke tautan lain.

Tayang:
IST/HO
JAGA INDONESIA - BNPT menyerukan gerakan Siap Jaga Indonesia. Sebuah ajakan agar menjaga negeri ini bukan lagi tugas segelintir aparat, tapi kesadaran bersama. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kekerasan ideologis belum mati. Ia hanya ganti kostum.

Dulu hadir dalam bentuk ledakan di hotel dan kafe, kini ia menjelma jadi siaran live, unggahan dakwah kelabu, dan transaksi gelap via dompet digital. 

Radikalisme kini tinggal selangkah dari jari jempol, menyelinap dari satu tautan ke tautan lain.

Sementara itu, jaringan teror internasional sudah main lintas negara, memanfaatkan dunia yang makin terhubung tapi tak selalu kuat dalam pertahanan sosialnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Eddy Hartono, mengatakan, Indonesia tidak tinggal diam.

 

Di usia ke-15 tahun, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berdiri bukan hanya sebagai pagar negara, tapi juga ruang dialog dan pembinaan. 

“Perjalanan 15 tahun BNPT adalah wujud nyata dari sinergi dan kolaborasi pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat,” kata Eddy dalam pernyataannya, Rabu (15/7/2025).

Ia menekankan bahwa pendekatan BNPT tak melulu soal strategi keras, tapi juga pendekatan yang menyentuh sisi manusia.

“Kami percaya bahwa pencegahan tidak hanya dilakukan dengan strategi, tetapi dengan hati yang ikhlas, melalui langkah yang edukatif dan pembinaan secara komprehensif," kata Eddy.

Dalam berbagai programnya, BNPT hadir di tengah masyarakat: mendampingi eks napi terorisme kembali ke masyarakat, membina penyintas untuk bangkit dari trauma, hingga membangun jejaring damai dengan tokoh agama dan komunitas lokal.

“BNPT akan terus hadir di tengah masyarakat, menjadi mitra yang solutif dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan,” katanya. 

Dan memang, hasilnya terlihat. Sejak 2023, Indonesia tidak mencatat satu pun serangan teror. Zero attack. Tapi ini bukan soal angka semata. 

Dibalik statistik, ada orang-orang yang bangkit. Eks napi terorisme yang membuka usaha halal, para penyintas yang kembali berkarya, hingga komunitas-komunitas yang memilih jalur damai meski pernah disakiti kekerasan.

Indonesia, sambungnya, sedang membuktikan bahwa yang patah bisa tumbuh lagi, yang luka bisa sembuh, asal dirawat bersama.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved