Minggu, 31 Agustus 2025

Demo di Jakarta

Tragedi Affan Kurniawan Menurut Aliansi Perempuan Indonesia: Simbol Kekerasan Negara

Bagi API, kematian Affan bukanlah peristiwa tunggal, melainkan potret dari pola kekerasan negara yang sistematis dan berulang.

|
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Tribunnews.com/Rizki S
OJOL MENINGGAL DUNIA - Suasana duka di kediaman almarhum Affan Kurniawan (21) bin Zulkifli, driver ojek online yang tewas dalam aksi unjuk rasa, Kamis (28/8/2025) malam di Kawasan Pejompongan, Jakarta. Affan tewas karena terlindas mobil kendaraan taktis (rantis) Baraccuda milik Korps Brimob Polri, Jumat (29/8/2025). [Rizki Sandi Saputra] 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Demonstrasi terjadi kembali di Jakarta hari ini, Jumat (29/8/2025). 

Beberapa titik di Jakarta seperti Senayan hingga area Mako Brimob Polda Metro Jaya, Kwitang, dipenuhi oleh massa. 

Aksi ini merupakan bagian dari protes kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian dalam menghadapi demonstrasi di Dewan Perwakilan Rakyat pada Kamis, (28/8/2025). 

Saat membubarkan massa demo, kendaraan taktis Brigade Mobil atau Brimob melindas pengemudi ojek online hingga mengakibatkan korban tewas

Aliansi Perempuan Indonesia (API) bersama jaringan masyarakat sipil menyampaikan pernyataan sikap terkait meninggalnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas dilindas mobil aparat saat aksi massa.

Bagi API, kematian Affan bukanlah peristiwa tunggal, melainkan potret dari pola kekerasan negara yang sistematis dan berulang.

Baca juga: Massa Aksi Unjuk Rasa Masuki Jalan Tol, Jasamarga Alihkan Tol Cawang-Pluit

“Pematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang ikut serta dalam aksi massa dan dilindas mobil aparat tidak dapat dipandang sebagai insiden tunggal."

"Peristiwa ini adalah bagian dari wajah kekerasan negara yang sistematis,” ucap Jumisih, staf Advokasi Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) yang merupakan bagian dari API, dalam konferensi pers virtual, Jumat (29/8/2025). 

Gelombang Kemarahan Rakyat

API menilai penderitaan rakyat semakin menumpuk. Harga kebutuhan pokok naik, pajak kian menekan, PHK massal terjadi di berbagai sektor, hingga perampasan tanah adat yang mengancam masyarakat kecil. 

Namun di sisi lain, DPR dan pejabat negara justru larut dalam kemewahan, menikmati tunjangan serta fasilitas yang melambung tinggi.

Ironinya, rakyat yang berani menyuarakan kekecewaan di jalanan malah dihadapkan dengan represi. 

Ratusan orang ditangkap, dipukuli, bahkan gas air mata ditembakkan ke arah rumah ibadah dan tenaga medis.

“Perempuan dan pelajar yang berada di barisan depan aksi tidak luput dari kekerasan. Mereka mengalami intimidasi, pemukulan, dan perlakuan diskriminatif hanya karena berani menyatakan pendapat,” kata Ajeng dari Perempuan Mahardika, melanjutkan pembacaan sikap API. 

Demokrasi Terkunci, Represi Menguat

Menurut API, negara kini lebih memilih jalan kekerasan ketimbang dialog demokratis. 

Dari pemindahan tahanan politik Papua ke luar daerah hingga konflik agraria di berbagai wilayah, wajah kekerasan negara kian nyata.

Halaman
123
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan