Program Makan Bergizi Gratis
Keracunan MBG Disorot Publik, Prabowo Sebut Kesalahan Hanya 0,00017 Persen
Prabowo sebut kesalahan MBG hanya 0,00017 persen. Tapi BGN akui kelalaian dan 5.914 korban, sambil minta maaf ke publik.
Ringkasan Utama
Presiden Prabowo Subianto mengakui adanya kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun menyebut kesalahan hanya 0,00017 persen dari total makanan yang didistribusikan. Di sisi lain, Badan Gizi Nasional mencatat 5.914 korban dan menyatakan insiden terjadi akibat kelalaian internal, bukan sabotase.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menanggapi sorotan publik terkait kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengakui bahwa program tersebut belum sepenuhnya sempurna dan masih memiliki kekurangan, termasuk insiden keracunan.
“Bahwa ada kekurangan iya, ada keracunan makan iya. Kita hitung dari semua makanan yang keluar, penyimpangan atau kekurangan atau kesalahan itu adalah 0,00017 persen,” ujar Prabowo saat menghadiri penutupan Munas VI Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (29/9/2025).
Program MBG merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo yang telah digaungkan sejak kampanye Pilpres 2024. Program ini resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 dan ditegaskan sebagai prioritas nasional dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. MBG ditujukan untuk anak-anak dan ibu hamil, dengan target pemerataan gizi di seluruh Indonesia.
Prabowo menyebut manfaat program ini besar, terutama bagi masyarakat di daerah yang sebelumnya kesulitan mengakses makanan bergizi.
“PKS yang di daerah-daerah merasakan pasti. Tapi, banyak elite di Indonesia tidak bisa menduga bahwa anak-anak kita, rakyat kita makan nasi pakai garam. Ini kita buktikan bahwa kita bisa memberi sesuatu, memberi bantuan, memberi apa yang mereka butuh,” katanya.
Pernyataan Prabowo muncul setelah Kepala Staf Presiden (KSP) M Qodari mengungkap data dari Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang mencatat lebih dari 5.000 siswa mengalami keracunan akibat konsumsi makanan dari program MBG.
Baca juga: Titiek Soeharto Temukan Beras Tak Layak Konsumsi, Dirut Bulog: Sedang Diproses Ulang
Data kasus keracunan MBG sejak dilaksanakan di Indonesia masih terdapat perbedaan di internal pemerintah.
Badan Gizi Nasional (BGN) selaku lembaga teknis pengarah, pengawas, dan penjamin mutu pelaksanaan program MBG pada Jumat (26/9/2025), mencatat ada 70 kasus keracunan MBG dengan total 5.914 orang terdampak sejak Januari hingga 25 September 2025. Kasus tersebar di tiga wilayah besar:
- Wilayah I (Sumatera): 9 kasus, 1.307 korban
- Wilayah II (Jawa): 41 kasus, 3.610 korban
- Wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur): 20 kasus, 997 korban
Lima daerah dengan jumlah korban tertinggi:
- Kota Bandar Lampung: 503 orang
- Kabupaten Lebong, Bengkulu: 467
- Kabupaten Bandung Barat: 411
- Kabupaten Banggai Kepulauan: 339
- Kabupaten Kulon Progo: 305
Lonjakan kasus terjadi pada Agustus dan September 2025. Pada Agustus tercatat 1.988 korban dari 9 kasus, sementara pada September melonjak menjadi 2.210 korban dari 44 kasus.
Hingga kini, pemerintah belum merinci langkah korektif lanjutan, namun Prabowo menegaskan komitmen untuk terus memperbaiki pelaksanaan program MBG.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menkopolkam Djamari Chaniago, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Mensesneg Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Prabowo-Subianto-berpidato-padv.jpg)