Mulut yang Mengetik, Internet yang Merangkul, Menuju Ruang Maya Ramah Anak Berkebutuhan Khusus
Di ruang kelas yang dipenuhi keterbatasan fisik, internet dan teknologi justru menjadi "anggota tubuh" baru, pemulih kemandirian
TRIBUNNEWS.COM - Bayangkan harus menulis tanpa tangan, atau bahkan tanpa kaki. Di SLB D YPAC Surakarta, ini bukan sekadar imajinasi, melainkan kenyataan sehari-hari bagi siswa-siswanya.
Ada yang mengoperasikan tablet dengan mulut dan lidahnya, ada pula yang bergantung pada suara untuk memerintahkan perangkat menuliskan kata-kata di layar.
Di ruang kelas yang dipenuhi keterbatasan fisik, internet dan teknologi justru menjadi "anggota tubuh" baru, pemulih kemandirian, pembuka jendela dunia yang selama ini tertutup rapat.
Kepala Sekolah SLB D YPAC Surakarta, Jaludin Khawarizmi, tersenyum saat menggambarkan para siswanya yang beragam: ada yang mampu didik, mampu latih, hingga mampu rawat.
"Kalau nulis mau nyuruh ganti tangan, kaki juga tidak ada, dia penggunaan alat geraknya, menggunakan mulut dan lidah," ceritanya ditemui pada Jumat (10/10/2025).
Fleksibilitas adalah kunci di sini. Berbeda dengan sekolah lain yang mungkin melarang tablet, di YPAC, perangkat itu justru diizinkan, asal untuk pembelajaran. Pascapandemi, sekolah ini melangkah maju dengan kelas hybrid via Google Meet atau Zoom, memastikan siswa yang sulit datang tetap ikut pelajaran tanpa tertinggal.
Lebih dari itu, YPAC membuka "Kelas 13", program pasca-lulusan unik yang tak dimiliki SLB lain di Jawa Tengah. Di sini, lulusan kelas 12 mendalami Teknologi Informasi, dari jadi influencer hingga pemasaran digital.
"Jadi intinya kalau mereka masih mau belajar, kami tampung," ujar Jaludin. Semua didukung infrastruktur solid: internet 200-400 Mbps dari dua provider, Wi-Fi merata, proyektor portabel, dan Smart TV.
Guru-guru pun dilatih teknologi Artificial intelligence (AI), seperti menghidupkan gambar dua dimensi anak jadi animasi interaktif. "Fungsinya guru harus lebih tahu dulu," tambahnya.
Kisah transformasi siswa seperti Rian (bukan nama sebenarnya) merupakan anak autis yang dulu isolasi, jadi inspirasi utama di sekolah itu.
Dengan Google Read&Write, ia "baca" teks via suara, partisipasi kelas naik 50 persen. Pascapandemi, hybrid learning via WhatsApp Video sudah bisa dipastikan tak ada yang tertinggal. "Mereka mandiri sekarang," katanya.
Jaludin Kembali berkisah, dulu ada siswa takut belajar online, namun sekarang tablet yang digunakan menjadi seperti teman. “Aku bisa 'bicara' lewat suara," ungkapnya menirukan suara.
Luka Tak Terlihat
Dari cerita harapan di YPAC, sisi gelap ruang digital dapat tersiar melalui lensa seorang ahli yang sering berhadapan langsung dengan korban-korbannya.
Adalah dr. Siti Wahyuni, Sp.KJ, dokter spesialis kedokteran jiwa yang sehari-hari praktik di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/amel-siswa-ypac-surakarta-dengan-keterbatasan-belajar-daring-di-rumah.jpg)