Senin, 20 April 2026

Wawancara Eksklusif

“Berani Gak Memimpin?” Tantangan Prabowo yang Lahirkan Program MBG untuk Anak Negeri

Prabowo menantang, Dadan menjawab. Dari trauma keracunan hingga sendok hilang—ini kisah nyata di balik MBG yang bikin hati bergetar.

|

Dan kemudian ketika mencari orang untuk menjadi kepala badan saat itu, beliau mempertimbangkan beberapa orang. 

Dan ketika bertemu dalam satu pertemuan, tiba-tiba beliau bertanya ke saya, "Berani gak memimpin?".

Baca juga: VIDEO EKSKLUSIF Bukan soal Statistik Tapi Satu Anak Saja Jadi Korban, Itu Sudah Bencana Nasional

Kenal di mana waktu itu? Ketemu di mana? 

Sebetulnya sejak 2020 saya sudah ikut menjadi tim pakar untuk program food estate di Kementerian Pertahanan. Saat itu saya bergabung lewat Pak Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Prof. Ramadhan Budi, yang memang sudah lama dekat dengan Pak Prabowo Subianto. Dulu beliau juga pernah menjadi Sekretaris Jenderal saat Pak Prabowo menjabat sebagai Ketua HKPI.

Pak Ramadhan sudah lama berkomunikasi intens dengan Pak Prabowo, terutama soal pembangunan pertanian dan isu-isu strategis lainnya. Saya diajak beliau masuk ke lingkaran diskusi itu. Sejak perkenalan di Kementerian Pertahanan, lalu masuk masa pilpres, saya diminta ikut dalam tim pakar untuk penyusunan misi. Sejak saat itu, intensitas pertemuan dengan Pak Prabowo meningkat—kami berdiskusi tiga sampai empat kali seminggu, durasinya bisa satu hingga empat jam setiap sesi.

Soal Perpres terkait dengan MBG, kelanjutannya bagaimana?

Perpres itu mengatur lebih banyak keterkaitan antar lembaga. Setelah program ini berjalan, ternyata jangkauannya cukup besar. Pelaksana utamanya memang Badan Gizi, tapi tidak cukup hanya itu. Kami butuh dukungan SDM dari Menpan-RB, koordinasi dari Sekretariat Negara, peraturan dari Menteri Hukum, pemenuhan rantai pasok dari Kementerian Pertanian dan KKP, serta kelembagaan dari Kementerian Koperasi, UMKM, dan Menteri Desa.

Penerima manfaat juga tersebar di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Kementerian PPA, dan Kementerian Pendudukan dan Pembinaan Keluarga. Termasuk aspek kehalalan dari Badan Penyelenggara Produk Halal. Jadi Perpres itu membahas tugas pokok dan fungsi dari masing-masing lembaga, kementerian, atau institusi.

Terjadi banyak kasus keracunan dalam pelaksanaan program ini dan jumlahnya meningkat. Bagaimana komunikasi Bapak dengan Pak Presiden Prabowo? Apakah ini jadi tekanan juga? 

Tentu saja kami tidak menginginkan kejadian seperti ini terjadi. Kami selalu menyesalkan setiap kali ada kasus. SOP sudah kami buat sangat rinci dan detail, memperhitungkan berbagai hal. Tapi, karena ini program besar dengan variasi daerah yang tinggi, kejadian seperti ini masih bisa terjadi. Kami berusaha sekuat tenaga agar frekuensinya semakin kecil.

Setiap kejadian pasti ada penerima manfaat yang tersakiti, harus dirawat, diinfus, dan sebagainya. Ada orang tua yang khawatir, takut anaknya kenapa-kenapa. Dan tentu saja, kepercayaan publik juga ikut terganggu.

Trauma juga, Pak?

Trauma. Karena itu kami ingin menghindarkan kejadian seperti ini. Pak Presiden pun memberikan instruksi yang lebih rinci terkait penanganan. Termasuk instruksi terakhir dalam Sidang Kabinet Paripurna agar BGN membagikan sendok atau mengajarkan anak-anak untuk makan menggunakan sendok.

Apakah sebelumnya belum ada sendok garpunya? 

Sebenarnya sudah ada. Tapi ukurannya kecil, sering hilang. Beberapa anak juga bawa sendiri. Sekarang Pak Presiden menginginkan agar Badan Gizi yang menyediakan langsung.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved