Kaleidoskop 2025
Tren 2025: Teroris Gaet Anak-anak di Game Online dan Medsos, Begini Cara Mereka Bekerja
Sepanjang tahun 2025 sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar paham radikalisme dari media sosial dan game online.
Ringkasan Berita:
- Sepanjang tahun 2025, Data BNPT mengungkapkan sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar paham radikalisme dari media sosial dan game online
- Sebagian dari anak-anak yang terpapar radikalisme mengalami kondisi broken home atau keluarga yang tidak harmonis
- Ajak orang tua untuk turut serta bisa merengkuh anak-anaknya dan meningkatkan literasi digital terhadap anak-anak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rabu 10 Desember 2025 lalu, seorang anak berinisial AL (12) menghabisi nyawa ibu kandungnya F (42).
AL tega menghubisi nyawa ibunya karena game online yang ada di telepon genggam dihapus.
Peristiwa itu terjadi di kediaman F di Medan Sumatera Utara.
AL mengambil pisau dapur lalu menusuk ibunya sampai 26 kali.
Baca berita selengkapnya : Game Online Picu 2 Tragedi: Suami Aniaya Istri di Depok, Anak Bunuh Ibu Kandung di Medan
Pada 7 November 2025, seorang siswa SMAN 72 Jakarta meledakkan bom di sekolahnya melukai 97 orang.
Pelaku diduga terpapar ideologi ekstremismi di ruang digital.
Baca berita selengkapnya : ABH Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Diperiksa Tiga Kali, Penyidik Dalami Motif Cara Merakit Bom
Bahaya Game Online
Sepanjang tahun 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar paham radikalisme dari media sosial dan game online atau permainan daring.
"Sepanjang tahun 2025, Densus 88 sudah menangkap beberapa jaringan terorisme maupun simpatisan asal Daulah yang berkembang kepada ISIS dan juga 112 anak yang teradikalisasi di sosial media maupun game online," kata Kepala BNPT Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono dalam Pernyataan Pers Akhir Tahun dan Perkembangan Tren Terorisme Indonesia Tahun 2025, Selasa (30/12/2025).
Paparan radikal di ruang digital kepada anak-anak ini dinilai berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan cara konvensional.
"Dibandingkan dulu, ketika proses radikalisasi secara konvensional itu membutuhkan waktu 2 sampai 5 tahun. Ya, sekarang dengan media online atau ruang digital, itu hanya butuh waktu 3 sampai 6 bulan,” ucapnya.
Bagaimana cara anak-anak terpapar radikalisme di media sosial?
Dari media sosial dimulai dari interaksi sederhana seperti likes (suka), share (membagikan konten), dan watch time (durasi tontonan).
Pola keterlibatan ini kemudian dibaca algoritma media sosial dan secara otomatis membentuk rekomendasi konten serupa sesuai dengan yang sering diakses pengguna.
“Contohnya begini, ketika dia mengakses kejadian perang Suriah atau perang Irak. Terus, misalkan di YouTube, nanti semakin dia sering mengakses, ya, itu akan terpolakan akan terbentuk,” ucapnya.
Bagaimana cara anak-anak terpapar radikalisme di game online?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-streamer-game-online-ok_.jpg)