Rabu, 22 April 2026

Kaleidoskop 2025

Tren 2025: Teroris Gaet Anak-anak di Game Online dan Medsos, Begini Cara Mereka Bekerja

Sepanjang tahun 2025 sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar paham radikalisme dari media sosial dan game online.

|
Editor: Hasanudin Aco
Business Insider
Ilustrasi streamer game. Sepanjang tahun 2025, BNPT mengungkapkan sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar paham radikalisme dari media sosial dan game online atau permainan daring. 

Pelaku menggunakan pola dalam psikologi dikenal sebagai digital grooming.

"Kalau di dalam game online karena game online itu ada fitur private chat, voice chat, saya meminjam istilah psikologis itu ada namanya digital grooming, tahap memastikan atau menanam kepercayaan, ketika sudah dapat grooming-nya, baru ditarik isolasi keluar, masuk ke dalam grup sosial media, baik itu Instagram maupun WA (WhatsApp)," ucapnya.

"Nah, di situlah baru dimainkan namanya normalisasi perilaku, artinya apa? Didoktrin tentang, karena ini dia kiblatnya ke ISIS, didoktrin tentang nilai-nilai ISIS," ujarnya.

Disebutkan, dalam proses radikalisasi terhadap anak, jaringan atau simpatisan memanfaatkan kerentanan psikologis remaja pada aspek emosi, perilaku, dan pola pikir.

Hal ini dibuktikan, mayoritas anak-anak yang terpapar mengalami trauma secara emosional, seperti perundungan (bullying) serta keluarga tidak utuh (broken home). 

Berawal dari keluarga broken home

Psikolog forensik yang juga Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Reni Kusumowardhani mengungkap, berdasarkan pemeriksaan psikologis, sebagian dari anak-anak yang terpapar radikalisme mengalami kondisi broken home atau keluarga yang tidak harmonis.

Selain itu, sebagian anak-anak yang terpapar radikalisme mengalami broken heart atau patah hati.

"Jadi pada saat mereka sedang mulai naksir, patah hati, itu carinya juga narasi-narasi yang bisa membangun semangat mereka," ujar Reni dalam Pernyataan Pers Akhir Tahun dan Perkembangan Tren Terorisme Indonesia 2025 yang digelar BNPT di sebuah hotel di Jakarta, Selasa (30/12/2025).

"Nah, kerentanan ini mudah sekali untuk ditangkap oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," imbuhnya.

Kondisi psikologis lain yang juga mereka hadapi, kata Reni, adalah broken dream.

Broken dream yang Reni maksud, adalah mengalami kebingungan dengan situasi masyarakat saat ini.

"Menurut mereka, pernyataan mereka bingung dengan situasi masyarakat sekarang, situasi keadaan sekarang di mana informasi itu sekarang mereka sangat sulit ya untuk membedakan antara yang hoaks dengan yang informasi yang bisa dipercaya," ujarnya.

Reni mengatakan anak-anak memiliki ekologi perkembangannya sendiri.

Ekologi perkembangan yang paling kecil dan yang paling dekat dengan mereka, kata dia, adalah orang tua dan sekolah.

Sedangkan negara, BNPT maupun kementerian lainnya ada di ranah makrosistem. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved