HUT & Rakernas PDIP 2026
Pidato Lengkap Megawati Soekarnoputri di Rakernas PDIP, Singgung Bencana dan Imperialisme Modern
Menurut Megawati, sejumlah undang-undang dan regulasi justru membuka ruang bagi eksploitasi alam secara berlebihan.
Ilmu pengetahuan pun memberikan peringatan keras. Kita sedang mendekati titik-titik kritis yang mungkin tidak dapat dipulihkan: suhu laut meningkat, es mencair ke titik terendah, dan keanekaragaman hayati merosot tajam. Sebagian ilmuwan bahkan menyebut fase ini sebagai awal keteruraian besar peradaban manusia.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah kita akan diam, ataukah kita akan mengubah arah sejarah?
Saudara-saudara sekalian, Bencana yang kita saksikan, khususnya di Sumatera, bukan hanya kehendak alam, melainkan juga akibat langsung dari ulah manusia.
Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan—sebagai spons alam penyerap air—telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis.
Akibatnya jelas dan nyata. Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap. Air kehilangan fungsinya sebagai sumber kehidupan, lalu berubah menjadi kekuatan penghancur. Ia menghantam hilir, menyapu pemukiman, lahan pertanian, dan kehidupan rakyat kecil yang bahkan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Inilah krisis peradaban ekologis— ketika manusia menempatkan dirinya sebagai penguasa alam, bukan sebagai bagian dari kesatuan kehidupan.
Kita harus berani jujur. Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan. Undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem. Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban.
Bung Karno telah mengingatkan kita sejak awal Republik berdiri. Tahun 1946, beliau berkata dengan sangat sederhana namun mendalam: “Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber. Tidak ada sumber, tidak ada air.” Hari ini, kebenaran itu terbukti secara tragis.
Saudara-saudara, kader Partai yang saya banggakan, Bangsa Indonesia tidak miskin nilai. Kita memiliki kearifan lokal yang jauh lebih maju daripada logika kapitalisme yang memisahkan manusia dari alamnya. Di Bali, kita mengenal Tri Hita Karana—jalan kebahagiaan yang lahir dari tiga keseimbangan: hubungan manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan sesamanya. Dalam pandangan ini, bumi dihormati sebagai satu ekosistem kehidupan, bukan objek eksploitasi.
Di tanah Jawa, kita mengenal Memayu Hayuning Bawana—memperindah bumi dan alam semesta. Bumi diperlakukan sebagai Ibu, langit sebagai Bapak, dan manusia adalah anak, bukan penguasa. Anak yang baik adalah anak yang merawat, bukan yang merusak. Bumi akan tersenyum bila dirawat, dan ketika bumi tersenyum, manusia akan memperoleh keselamatan.
Karena itu, peradaban yang maju bukan diukur dari gedung tinggi, melainkan dari cara ia memperlakukan bumi. Siapapun yang mencintai bumi, bumi akan berbicara dengan memberikan keselamatan kehidupan. Maka, jalan perjuangan Partai harus berpihak pada kelestarian ekologi.
Inilah pesan Tri Hita Karana. Inilah pesan Memayu Hayuning Bawana. Dan inilah pesan Pancasila.
Tema Rakernas I Partai Tahun 2026, Satyam Eva Jayate—kebenaran pasti akan menang, harus kita maknai sebagai keberanian berdiri di pihak kebenaran ekologis, sosial, dan ideologis.
Subtema “Di Sanalah Aku Berdiri, Untuk Selama-Lamanya” adalah ikrar bahwa PDI Perjuangan berdiri bersama rakyat dan bumi, bukan bersama kekuasaan yang melupakan tanggung jawab sejarahnya.
Karena itu, saya tegaskan: kader PDI Perjuangan harus menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Pandu adalah penunjuk jalan. Pandu adalah penjaga arah. Pandu adalah mereka yang berjalan paling depan saat jalan gelap, dan paling belakang saat rakyat harus dilindungi. Kader tidak boleh menjadi bagian dari kerusakan alam dan penderitaan rakyat.
Menjadi Pandu Ibu Pertiwi berarti menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara kekuasaan dan moral, antara pembangunan dan keadilan. Berani mengatakan tidak pada kebijakan yang merusak bumi. Berani melawan keserakahan yang mengorbankan rakyat. Dan berani berdiri tegak di atas kebenaran, apa pun konsekuensinya.
Anak-anakku, jangan pernah takut pada kebenaran. Kebenaran adalah api yang menyucikan. Kader PDI Perjuangan harus berani disucikan oleh kebenaran itu—berani mengakui kesalahan, berani memperbaiki diri, dan berani berdiri tegak meski sendirian. Seorang pejuang sejati tidak mengejar popularitas, melainkan tanggung jawab; tidak mencari pujian, melainkan pengabdian.
Anak-anakku sekalian, bangsa ini membutuhkan teladan, bukan sekadar kata- kata. Politik harus kembali menjadi politik moral, politik gotong royong, politik pengabdian. Jadikan setiap langkah politik kita sebagai tanggung jawab sejarah.
Menjadi kader PDI Perjuangan bukan sekadar mengenakan seragam merah atau mengutip nama Bung Karno. Menjadi kader berarti menghidupi nilai perjuangan dalam pikiran, tindakan, dan hati nurani.
Anak-anakku, hari ini saya berdiri di hadapan kalian bukan hanya sebagai Ketua Umum Partai, tetapi sebagai seorang ibu yang mengingatkan anak-anak ideologisnya bahwa jalan perjuangan ini panjang, berat, dan hanya dapat ditempuh oleh mereka yang berjiwa teguh dan berhati bersih.
Sejarah tidak akan bertanya berapa jabatan yang pernah kalian duduki. Sejarah akan bertanya: di pihak siapa kalian berdiri ketika kebenaran diuji? Di sanalah nilai kader diukur. Di sanalah kehormatan perjuangan ditentukan.
Mari kita jadikan peringatan HUT Partai ke-53 ini sebagai titik penguatan tekad dan disiplin ideologis. Satukan pikiran, satukan langkah, dan satukan keberanian. Rawat bumi, lindungi Rakyat, dan jaga marwah politik sebagai alat pengabdian.
Dirgahayu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ke-53. Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridai perjuangan kita. Satyam Eva Jayate.
Terima kasih.
Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh.Om Santi Santi Santi OmNamo Buddhaya Merdeka !!!
Megawati Soekarnoputri
KETUA UMUM PDI PERJUANGAN
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Megawati-Soekarnoputri-saat-membuka-pidatonya.jpg)