Cadangan Beras Catatkan Capaian Tertinggi, Asa Menuju Swasembada Pangan dan Kesejahteraan Petani
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Indonesia mencatatkan tertinggi pada Juli 2025 lalu dan masih bertahan hingga saat ini.
Rinciannya, 287,6 ribu ton untuk memperkuat CBP dan 6 ribu ton untuk stok beras komersial.
Perlunya Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani
Sementara itu peneliti Yayasan Kekal Berdikari, Jan Prince Permata menilai capaian swasembada beras nasional memiliki makna strategis yang lebih luas.
Ia menjelaskan, tidak ada negara yang benar-benar berdaulat tanpa kemampuan memberi makan rakyatnya sendiri.
"Ketahanan pangan bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga menyangkut martabat bangsa, stabilitas sosial, dan masa depan pembangunan. Karena itu, swasembada pangan bukan hanya target produksi, tetapi agenda strategis yang menentukan arah keberlanjutan sebuah negara,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu, 12 Februari 2026.
Jan mengungkapkan pembahasan swasembada memang perlu melihat nasib petani sebagai aktor utama produksi pangan.
Namun ia juga menekankan bahwa peningkatan produksi yang konsisten merupakan pijakan awal yang penting.
“Ketika kebijakan pangan dibicarakan, pada dasarnya yang dipertaruhkan bukan hanya angka produksi, tetapi juga keberlanjutan kehidupan jutaan keluarga petani,” katanya.
Sektor Pertanian dalam Ekonomi Nasional
Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 mencapai 5,11 persen (yoy).
Hal itu diungkapkan Airlangga, juga dalam acara acara Indonesia Economic Outlook 2026.
Capaian itu menempatkan Indonesia di posisi kedua tertinggi di antara negara-negara G20, setelah India yang mencatatkan angka pertumbuhan 7,4 persen.
“Di tengah situasi global yang stagnan, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan di atas 5 persen. Ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat,” kata Airlangga.
Adapun sektor pertanian tumbuh 5,03 persen dan menjadi salah satu penopang stabilitas harga.
Nilai Tukar Petani di Indonesia
Pada akhir 2025, diketahui sektor pertanian nasional memiliki capaian Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 125,35, atau meningkat 1,05 persen dibandingkan November 2025.
Nilai Tukar Petani (NTP) adalah indikator yang menunjukkan tingkat kesejahteraan petani, diukur dari perbandingan antara harga yang diterima petani dengan harga yang dibayar petani.
Jika NTP lebih dari 100, menunjukkan petani surplus atau daya beli meningkat. Apabila NTP = 100 maka impas. Sedangkan jika NTP kurang dari 100, maka petani defisit atau daya beli menurun.