Iran Vs Amerika Memanas
Amin Ak Minta Pemerintah Pertebal Bantalan Sosial Hadapi Potensi Gejolak Ekonomi dan Politik Global
Anggota Komisi XI DPR RI Amin Ak, memperingatkan kemungkinan munculnya "tsunami" geoekonomi bagi Indonesia.
Ringkasan Berita:
- Eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel melawan Iran, khususnya di Selat Hormuz, berisiko mendorong harga minyak di atas US$100 per barel.
- Kondisi ini bisa memperlebar defisit APBN 2026 dan memicu imported inflation yang menghantam daya beli masyarakat.
- Pemerintah menghadapi simalakama: membiarkan subsidi energi membengkak dapat merusak fiskal, namun memangkasnya berisiko memicu gejolak sosial dan tekanan ekonomi rakyat bawah akibat kenaikan harga BBM dan pangan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI Amin Ak, memperingatkan kemungkinan munculnya "tsunami" geoekonomi bagi Indonesia, imbas aksi saling serang antara militer Amerika Serikat (AS) - Israel dan Iran di Timur Tengah.
Sebab itu, kata Amin Ak, penting bagi pemerintah Indonesia menyusun kebijakan fiskal secara presisi guna menghadapi berbagai kemungkinan dampak ekonomi yang timbul.
Menurut Amin, eskalasi konflik di Selat Hormuz menjadi ancaman langsung terhadap urat nadi pasokan energi dunia.
Harga minyak mentah yang melambung di atas US$ 100 per barel memaksa APBN 2026 berdiri di tepi jurang defisit.
Legislator Fraksi PKS itu menilai, serangan balasan Iran ke sekutu AS di Teluk akan menciptakan efek domino yang tak terelakkan.
"Kita tidak sedang bicara angka di atas kertas, tapi harga sepiring nasi di meja rakyat. Kenaikan harga minyak dunia adalah alarm imported inflation yang bisa melumat daya beli masyarakat bawah dalam sekejap," kata Amin dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (1/3/2026).
Imported inflation adalah kenaikan harga di dalam negeri akibat mahalnya barang impor (seperti BBM, gandum, kedelai, bahan baku pupuk), baik karena harga global naik maupun nilai tukar mata uang melemah.
Dampaknya, biaya produksi meningkat dan harga barang ikut naik. Inflasi ini berasal dari faktor eksternal, bukan karena tingginya permintaan masyarakat di dalam negeri.
Menurut Amin, Indonesia kini terjebak dalam simalakama. Membiarkan subsidi membengkak akan menjebol pertahanan fiskal, namun memangkasnya tanpa perhitungan matang adalah "bunuh diri" politik dan ekonomi yang akan memicu gejolak sosial.
Tiga Langkah Penyelamatan
Untuk meredam guncangan, Amin Ak mendorong pemerintah segera mengambil langkah luar biasa (extraordinary measures).
Pertama, Re-alokasi anggaran untuk bantalan sosial yang berarti Pemerintah harus segera menyisir anggaran proyek non-strategis untuk dialihkan menjadi tambahan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Energi dan subsidi pangan.
Kedua, diplomasi energi non-tradisional. Ia mendorong kementerian terkait untuk mencari alternatif pasokan minyak dari wilayah non-konflik guna mengurangi ketergantungan pada jalur distribusi yang terganggu di Timur Tengah.
Ketiga, intervensi moneter yang terukur. Amin mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas Rupiah dari pelarian modal (capital outflow) tanpa harus mencekik pertumbuhan kredit UMKM karena kenaikan suku bunga yang terlalu agresif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/anggota-komisi-vi-dpr-amin-ak-meminta-pemerintah.jpg)