Senin, 18 Mei 2026

Peluru Nyasar Lukai 2 Siswa di Gresik, Anggota Komisi I DPR Desak TNI AL Turun Tangan

DPR menilai langkah ini penting demi menjamin transparansi dan akuntabilitas penanganan kasus.

Tayang:
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Hasanudin Aco
Tribunnews.com/Danang Triatmojo
KASUS PELURU NYASAR – Ibunda Darrell (14), Dewi Murniati (tengah), didampingi pengacara Ali Yusuf (kiri) saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Kamis (2/4/2026). Dewi mengungkap kondisi tangan anaknya yang dipasang pen serta pengakuan adanya syarat hapus konten medsos dan video minta maaf dalam mediasi yang buntu. 

 

Ringkasan Berita:
  • Anggota Komisi I DPR RI prihatin atas kejadian peluru nyasar yang melukai dua siswa SMPN 33 Gresik.
  • Peristiwa ini diduga terkait latihan tembak TNI AL di Karangpilang, Surabaya, yang lokasinya berdekatan dengan sekolah.
  • Kasus tersebut menyoroti pentingnya evaluasi keamanan agar kejadian serupa tidak berulang.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh, menyampaikan keprihatinannya atas insiden peluru nyasar yang mengenai dua siswa SMPN 33 Gresik, Darrell Fausta Hamdani dan Renheart Octo Hanaya.

Peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas latihan tembak prajurit TNI Angkatan Laut di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, yang berjarak sekitar 2,3 kilometer dari sekolah.

Oleh Soleh mendesak TNI AL untuk segera melakukan audit investigasi secara menyeluruh guna memastikan asal peluru yang mengenai kedua siswa tersebut. 

Dia menilai langkah ini penting demi menjamin transparansi dan akuntabilitas penanganan kasus.

“Audit investigasi harus dilakukan secara serius dan terbuka agar diketahui secara pasti sumber peluru tersebut. Ini menyangkut keselamatan masyarakat sipil,” kata Oleh Soleh, dalam keterangannya Kamis (16/4/2026).

Oleh Soleh juga menegaskan bahwa jika ditemukan pelanggaran prosedur operasional standar (SOP) dalam latihan tembak, maka prajurit yang terlibat harus diberikan sanksi tegas sesuai aturan.

“Jika latihan dilakukan tidak sesuai SOP, maka harus ada pertanggungjawaban. Penegakan disiplin sangat penting agar kejadian serupa tidak terulang,” ucapnya.

Menurutnya, insiden ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi institusi militer, terutama dalam pelaksanaan latihan yang berpotensi berdampak pada masyarakat sekitar.

“Ini menjadi pelajaran penting bagi TNI dalam menjalankan latihan militer. Jangan sampai peluru yang ditembakkan justru membahayakan warga sipil, apalagi korbannya adalah anak-anak sekolah,” ujarnya.

Oleh Soleh berharap kasus ini dapat ditangani secara maksimal, termasuk memastikan korban mendapatkan penanganan terbaik serta adanya langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Keluarga Darrell Masih Tunggu Tanggung Jawab Tuntas TNI

Darrell Fausah Hamdani (14) yang duduk di bangku kelas 3 SMPN 33 Gresik, Jawa Timur, menjadi salah satu korban peluru nyasar TNI pada Rabu, 17 Desember 2025. Ia terkena peluru nyasar yang bersumber dari latihan militer 4 batalyon di lapangan tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya.

Diketahui jarak sekolah dengan lokasi lapangan tembak sekitar 2,3 kilometer. Saat kejadian, korban Darrell sedang mengikuti kegiatan sosialisasi sekolah tingkat lanjut dan tengah membaca brosur di musala sekolah.

Peluru nyasar itu menerjang dan bersarang di tangan kiri korban Darrell.

Setelah kejadian itu, pihak TNI memang telah membantu dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit dan menyatakan bertanggung jawab atas penyembuhan dan pemulihan korban. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved