Pakar UI Sebut Banyak Anak Indonesia Cukup Makan, Namun Kurang Gizi
Fenomena yang terjadi di Indonesia adalah banyak anak mengonsumsi makanan dominan karbohidrat, seperti nasi, mi, atau makanan murah tinggi kalori.
Ringkasan Berita:
- Persoalan gizi anak di Indonesia bukan hanya kekurangan makanan, tetapi lebih pada kualitas makanan yang dikonsumsi sehari-hari
- Fenomena yang terjadi di Indonesia adalah banyak anak mengonsumsi makanan yang dominan karbohidrat, seperti nasi, mi, atau makanan murah tinggi kalori
- Sementara konsumsi protein hewani seperti telur, ikan, daging, dan susu masih tergolong rendah
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pola makan anak Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan serius. Banyak anak terlihat cukup makan sehari-hari, namun sebenarnya belum mendapatkan asupan gizi yang lengkap dan seimbang.
Kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai masalah gizi, mulai dari stunting, anemia, hingga obesitas pada anak.
Hal itu disampaikan Sandra Fikawati dari Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan (PKGK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) dalam kegiatan di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Baca juga: Anak Susah Fokus dan Mudah Lupa? Kurang Protein Bisa Jadi Penyebab
Ia menyebut, persoalan gizi anak di Indonesia bukan hanya kekurangan makanan, tetapi lebih pada kualitas makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
“Fenomena yang terjadi di Indonesia adalah banyak anak mengonsumsi makanan yang dominan karbohidrat, seperti nasi, mi, atau makanan murah tinggi kalori,” ungkap Prof Fika.
Sementara konsumsi protein hewani seperti telur, ikan, daging, dan susu masih tergolong rendah.
Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keterbatasan ekonomi keluarga, harga protein hewani yang dianggap mahal, hingga kurangnya edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang.
Padahal, masa balita dan usia dini merupakan periode penting bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.
“Asupan nutrisi yang tidak cukup pada masa itu dapat berdampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan dan kemampuan belajar anak,” jelas dia.
Saat ini Indonesia masih menghadapi tiga persoalan besar terkait gizi anak, yaitu kurang gizi makro, kekurangan zat gizi mikro, dan kelebihan gizi.
Kurang gizi makro meliputi stunting, wasting, dan underweight. Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis yang menyebabkan pertumbuhan anak terhambat sehingga tinggi badan lebih rendah dibanding standar usianya. Wasting merupakan kondisi berat badan terlalu rendah dibanding tinggi badan akibat kekurangan gizi akut, sedangkan underweight adalah berat badan yang berada di bawah standar usia anak.
Selain itu, banyak anak Indonesia juga mengalami kekurangan zat gizi mikro seperti zat besi, vitamin A, yodium, dan zinc. Kekurangan zat besi dapat memicu anemia yang membuat anak mudah lelah dan sulit berkonsentrasi. Sementara kekurangan vitamin A dapat menurunkan daya tahan tubuh dan mengganggu kesehatan mata.
Di sisi lain, kasus kelebihan gizi juga terus meningkat.
“Konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak yang tidak diimbangi aktivitas fisik memicu meningkatnya overweight dan obesitas pada anak. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia muda,” ungkap dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Sandra-Fikawati-1-12052026.jpg)