Sabtu, 11 April 2026

Perluas Akses Pendidikan, PPTSB Jalin Kerja Sama dengan Ganesha Operation

Kerjasama Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dan Boruna (PPTSB) dengan GO untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan bagi siswa-siswi Indonesia.

Editor: Sri Juliati
HO/IST/Ganesha Operation
JALIN KERJASAMA - Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dan Boruna (PPTSB) se-Indonesia dengan Ganesha Operation (Bimbel GO) menjalin kerjasama untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan bagi siswa-siswi Indonesia, sekaligus memperkuat pendampingan akademik yang terstruktur dan berkelanjutan. 

PPTSB telah terdaftar secara sah sebagai badan hukum perkumpulan di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sehingga memiliki legitimasi dalam menjalankan berbagai program sosial, termasuk di bidang pendidikan.

Secara historis, keberadaan PPTSB berakar dari semangat kebersamaan marga-marga yang tergabung dalam perkumpulan Si Raja Lontung yang berkembang di Medan sejak tahun 1938. 

Perkumpulan tersebut melibatkan sejumlah marga, di antaranya Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, dan Siregar, beserta boru Sihombing–Simamora. 

Seiring waktu, pada tahun 1940 muncul inisiatif dari marga Sinaga untuk membentuk kesatuan organisasi tersendiri yang kemudian berkembang menjadi PPTSB seperti saat ini.

Pendampingan Pendidikan Perlu Pendekatan Terarah dan Berkelanjutan

Dalam rangkaian acara penandatanganan kerja sama tersebut, Direktur Utama Ganesha Operation, Prof. Dr. Ir. Bob Foster Sinaga, M.M., menyoroti posisi daya saing Indonesia yang berada di peringkat ke-27 dari 67 negara yang disurvei di dunia. 

Menurutnya, capaian tersebut perlu terus diperkuat dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama melalui pendidikan. 

Tantangan seperti kualitas pendidikan yang masih berada di bawah rata-rata global dalam bidang matematika, sains, dan literasi, kesenjangan digital antarwilayah, serta keterbatasan infrastruktur pendukung dinilai memerlukan strategi pendampingan yang lebih terarah.

"To live is to compete," ujar Prof. Bob dalam paparannya. 

Ia menegaskan bahwa persaingan, termasuk dalam dunia pendidikan, tidak dapat dihindari dan harus dihadapi dengan persiapan yang matang. 

Hal ini tercermin dari ketatnya seleksi masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia, di mana dari lebih dari 5,4 juta siswa kelas 12 SMA/SMK/MA, sekitar 91 persen tidak lolos seleksi SNBP dan SNBT pada tahun 2025.

Dalam paparannya, Prof. Bob juga menjelaskan bahwa strategi pendampingan pendidikan perlu dirancang secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran hingga kesiapan siswa menghadapi berbagai bentuk evaluasi akademik. 

Ia menyebutkan, pendekatan pembelajaran yang diterapkan Ganesha Operation menghadirkan pembelajaran tatap muka yang berbasis teknologi online sehingga siswa tetap mendapatkan pendampingan langsung sekaligus fleksibilitas belajar melalui aplikasi GO Expert.

Pendampingan tersebut tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada proses pelatihan dan penguatan kemampuan siswa secara bertahap. 

Melalui metode pembelajaran Ganesha Operation, yaitu Formula 3B: Belajar, Berlatih, dan Bertanding, siswa diarahkan untuk memahami konsep, mengasah kemampuan melalui latihan, serta membiasakan diri menghadapi soal dan tantangan akademik secara lebih terstruktur. 

Pendekatan ini dinilai penting mengingat latar belakang dan tingkat kemampuan akademik siswa yang beragam.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved