Selasa, 19 Mei 2026

Kenapa Menguap Bisa Menular? Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Contagious Yawning

Pernah tiba-tiba menguap setelah melihat teman di sebelahmu melakukannya? Ternyata, ini bukan sekadar kebetulan atau sugesti semata.

Tayang:
Editor: Tiara Shelavie
ISTIMEWA/GANESHA OPERATION
ILUSTRASI MENGUAP - Pernah tiba-tiba menguap setelah melihat teman di sebelahmu melakukannya? Ternyata, ini bukan sekadar kebetulan atau sugesti semata. 

TRIBUNNEWS.COM - Pernah tidak, saat sedang duduk di kelas tiba-tiba ada satu orang yang menguap lalu beberapa detik kemudian orang lain ikut menguap juga? Kondisi ini sering terjadi, apalagi saat belajar terlalu lama tanpa jeda hingga tubuh mulai lelah dan konsentrasi menurun. Itulah mengapa saat siswa belajar di Ganesha Operation ada yang namanya waktu break di sela kegiatan belajar agar siswa tetap belajar secara optimal.

Fenomena menguap ini terasa sangat familiar hingga sering dianggap sebagai hal biasa. Dalam obrolan santai, tidak sedikit orang menganggap menguap yang menular hanyalah sugesti atau sekadar mitos belaka. Banyak pula yang berpikir bahwa hal tersebut hanya terjadi karena seseorang ikut merasa ngantuk setelah melihat orang lain menguap.

Padahal, penjelasannya tidak sesederhana itu. Dalam dunia sains, kondisi ini dikenal dengan istilah contagious yawning, yaitu fenomena ketika seseorang secara refleks ikut menguap setelah melihat, mendengar, atau bahkan memikirkan orang lain yang sedang menguap.

Menariknya, para peneliti menemukan bahwa fenomena sederhana ini ternyata berkaitan dengan cara kerja otak, respons sosial, hingga kemampuan empati manusia. Lalu, apa sebenarnya yang membuat tubuh kita seperti ikut “meniru” respons sederhana ini?

Baca juga: Gap Year: Ambil Jeda untuk Peluang Kampus yang Lebih Terbuka

Apa yang Terjadi di Otak Saat Menguap Menular?

Meski terlihat sederhana, ilmuwan hingga kini masih terus meneliti alasan pasti mengapa manusia menguap. Secara teori, menguap membantu tubuh meningkatkan asupan oksigen, membuang karbon dioksida, hingga mendinginkan otak agar tubuh kembali lebih waspada.

  Menurut para peneliti yang diwawancarai PBS NewsHour, saat tubuh lelah, kadar karbon dioksida dapat meningkat dan memicu sinyal tertentu di otak yang kemudian mendorong seseorang untuk menguap. Gerakan menguap juga melibatkan kontraksi otot wajah yang membantu melancarkan aliran darah kaya oksigen menuju otak.

Namun yang lebih menarik adalah alasan mengapa menguap bisa menular. Penelitian menemukan bahwa peluang seseorang untuk ikut menguap bisa meningkat hingga enam kali lipat setelah melihat orang lain menguap terlebih dahulu.

Fenomena ini diduga berkaitan dengan mekanisme bernama social mirroring, yaitu kecenderungan otak untuk meniru tindakan yang dilakukan orang lain secara tidak sadar. Respons ini juga terjadi saat seseorang ikut tertawa ketika mendengar orang lain tertawa, ikut menggaruk ketika melihat orang lain menggaruk tubuhnya, atau otomatis tersenyum saat melihat orang lain tersenyum.

Itulah sebabnya, bukan hanya melihat orang menguap secara langsung yang bisa memicu respons ini. Mendengar suara orang menguap, menonton video, bahkan sekadar membayangkannya pun kadang cukup untuk membuat seseorang ikut menguap tanpa sadar.

Ternyata Berkaitan dengan Empati dan Kedekatan Sosial

Menariknya, menguap yang menular ternyata tidak hanya berkaitan dengan refleks tubuh, tetapi juga diduga memiliki hubungan dengan kemampuan sosial manusia, terutama empati.

Dalam penelitian yang dikutip Psychology Today, sekitar 40 persen hingga 60% orang cenderung mengalami contagious yawning setelah melihat, mendengar, atau bahkan hanya memikirkan orang lain yang sedang menguap. Para peneliti kemudian menemukan bahwa respons ini lebih sering terjadi ketika seseorang melihat orang yang memiliki hubungan dekat secara emosional, seperti keluarga, sahabat, atau pasangan.

Temuan tersebut melahirkan teori bahwa contagious yawning mungkin berkaitan dengan empati, yaitu kemampuan seseorang untuk memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain. Secara sederhana, otak bisa saja sedang membangun respons sosial tanpa kita sadari.

Penelitian lain juga menemukan bahwa anak-anak umumnya baru mulai menunjukkan respons menguap menular sekitar usia empat tahun. Pada usia tersebut, kemampuan sosial mereka mulai berkembang, termasuk kemampuan memahami bahwa orang lain memiliki pikiran, perasaan, dan pengalaman yang berbeda dari dirinya.

Meski begitu, temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa tindakan sesederhana menguap ternyata bisa membuka gambaran besar tentang bagaimana manusia membangun koneksi sosial satu sama lain.

Bukan Cuma Manusia, Hewan Juga Bisa Tertular Menguap

Jika kamu mengira menguap menular hanya terjadi pada manusia, faktanya fenomena ini juga ditemukan pada berbagai jenis hewan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved