Selasa, 14 April 2026

Dedi Mulyadi Minta Ortu Tak Bela Anak, Hukuman Guru Harus Diterima Jika Perlu Ditambah

Kasus kepala SMAN 1 Cimarga tampar siswa merokok disorot Dedi Mulyadi. Ia minta orangtua tak lapor guru yang beri hukuman wajar.

Editor: Glery Lazuardi
Dok. Pemprov Jawa Barat
DEDI MULYADI - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti kasus kepala SMAN 1 Cimarga yang menampar siswa karena merokok. Ia mengingatkan orangtua agar tidak mudah menyalahkan guru yang memberi hukuman mendidik. 

Iyan menambahkan, proses perdamaian ini digelar setelah upaya mediasi antara Dini dan siswa yang difasilitasi oleh Gubernur Banten

Selain itu, di Lebak, juga dilakukan mediasi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Lebak, Ketua PGRI, anggota DPRD Banten, serta pengacara orang tua siswa. 

"Kami bersyukur situasi yang sempat kisruh selama tiga hari ini bisa mereda. Orang tua menyerahkan sepenuhnya kepada pengacara untuk menyelesaikan laporan di kepolisian," ujar Iyan. 

Kapolres Lebak juga telah berkoordinasi dengan pengacara siswa agar perkara ini dapat diselesaikan demi menjaga marwah pendidikan. 

"Pak Kapolres sudah memiliki kesepahaman soal pentingnya menjaga tatanan dunia pendidikan," kata Iyan. Proses perdamaian ini juga akan dihadiri oleh perwakilan Gubernur Banten dan perwakilan Bupati Lebak. 

"Alhamdulillah Pak Bupati memberi izin dan menugaskan kami hadir langsung. Pak Sekda juga akan menerima perwakilan dari Pemprov," tambah Iyan. 

Dengan kesepakatan ini, laporan dugaan kekerasan terhadap siswa yang sebelumnya ditangani Polres Lebak rencananya tidak akan dilanjutkan.

Kronologi Kejadian

Diberitakan TribunBanten.com, Kepala SMA Negeri 1 Cimarga diduga telah menganiaya siswa kelas XII berinisial ILP (17).

Menurut pengakuan korban, kejadian bermula saat dirinya merokok di belakang warung yang berada di sekitar sekolah.

Namun, ia bertemu dengan kepsek yang langsung menegurnya.

"Saya kaget waktu ketemu kepsek. Rokok langsung saya buang, tapi disuruh nyari lagi sama kepala sekolah," jelasnya melalui sambungan telepon, Sabtu (11/10/2025).

"Enggak ketemu-ketemu, lalu kepsek bilang saya bohong."

"Terus beliau marah, nendang saya di bagian punggung, terus nampol saya di pipi kanan," sambungnya.

Ia mengaku tidak hanya mengalami kekerasan fisik, tetapi juga mendapat makian dengan kata-kata kasar saat peristiwa itu terjadi.

"Kepsek bilang goblok, anjing, terus nyuruh saya nyari rokok lagi, padahal udah enggak ada," ujarnya.

Setelah itu, ILP kemudian dibawa ke ruang sekolah dan kembali dimarahi di hadapan beberapa guru.

"Beliau masih marah-marah, bilang kami enggak menghargai, dan katanya baru pertama kali marah sampai seperti itu," katanya.

Sementara itu, Dini Fitria buka suara terkait dugaan kekerasan yang menyeret namanya.

Dini menjelaskan, peristiwa terjadi pada hari Jumat bertepatan dengan pelaksana program Jumat bersih. 

Namun, pada saat dirinya berkeliling melihat seorang siswa tengah merokok di dekat warung kecil yang berada di luar pagar sekolah.

"Jumat Bersih itu bagian dari rangkaian kegiatan pembentukan karakter para siswa. Saya lihat dari jarak sekitar 20-30 meter, ada asap rokok di tangan anak itu," kelasnya.

"Saya panggil dengan suara agak keras, karena jaraknya cukup jauh. Anak itu langsung lari," sambungnya. 

Saat dimintai keterangan, kata Dini, siswa tersebut tidak mengakui perbuatannya, yang membuat dirinya sempat emosi karena merasa dibohongi.

Dini juga mengakui, telah menampar siswanya tersebut, akan tetapi tidak begitu keras. 

"Saya kecewa bukan karena dia merokok, tapi karena tidak jujur. Saya spontan menegur dengan keras, bahkan sempat memukul pelan karena menahan emosi. Tapi saya tegaskan, tidak ada pemukulan keras," katanya.

Tak hanya itu, Kepsek itu membantah bahwa dirinya menendang siswanya tersebut.

"Saya tidak menendang. Hanya menepuk bagian punggung, itu pun karena emosi spontan. Tidak ada luka atau bekas apa pun," ucapnya. 

Menurut Dini, warung tempat kejadian tersebut memang sudah menjadi perhatian pihak sekolah, lantaran diduga kerap menjual rokok kepada siswa.

"Kami sudah pernah mengingatkan pemilik warung, agar tidak menjual rokok. Bahkan kami buat kesepakatan, kalau masih ketahuan, kantinnya akan kami tutup sementara," ujarnya.

Dini berharap peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran, agar lebih berhati-hati dan menjaga komunikasi antara guru, siswa dan orang tua.

"Kami di sekolah berupaya membentuk karakter anak, bukan merusak. Kalau ada kekeliruan dalam cara saya menegur, tentu akan saya evaluasi," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved