Minggu, 19 April 2026

Dosen Untag Semarang Meninggal

Penyebab Polisi Buru Bukti Cairan Sperma Libatkan AKBP Basuki, Misteri Kematian Dosen Untag Semarang

Perburuan terhadap bukti cairan sperma diduga berasal dari AKBP Basuki menjadi prioritas polisi untuk mengungkap berbagai hal

kolase/Tribun Jateng
KEMATIAN DOSEN - Dugaan keterlibatan AKBP Basuki pada kematian dosen Untag Semarang DLL menguat setelah gelagat tak biasa ditangkap keluarga. Perburuan terhadap bukti cairan sperma diduga berasal dari AKBP Basuki menjadi prioritas polisi untuk mengungkap berbagai hal 

Ringkasan Berita:
  • Polisi tak berhenti pada hasil autopsi jenazah Dosen Levi, yang ditemukan tewas di kamar kostel
  • Perburuan terhadap bukti cairan sperma diduga berasal dari AKBP Basuki menjadi prioritas kini
  • Hal tersebut untuk mengungkap berbagai kemungkinan, termasuk mengetahui adakah hubungan seksual pihak yang terlibat

TRIBUNNEWS.COM - Penyelidikan kasus kematian dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Dwinanda Linchia Levi, memasuki babak baru.

Polisi kini menaruh perhatian besar pada pencarian sisa cairan sperma yang diduga berasal dari AKBP Basuki, perwira polisi yang sebelumnya diketahui berada di lokasi sebelum korban ditemukan tak bernyawa.

Langkah ini menjadi fokus utama penyidikan karena hasil forensik terhadap cairan tubuh di tempat kejadian perkara (TKP) dinilai dapat menjelaskan urutan peristiwa sebelum korban meninggal.

Dalam laporan penyidik, sejumlah barang di kamar kostel tempat Levi ditemukan meninggal telah disita, termasuk seprai, selimut, hingga sprei hotel.

Semua kain tersebut diperiksa karena berpotensi menyimpan jejak sperma atau cairan tubuh lain yang dapat mengarah pada rekonstruksi interaksi terakhir antara korban dan AKBP Basuki.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses pemeriksaan laboratorium forensik dilakukan untuk memastikan apakah ada DNA sperma yang cocok dengan profil Basuki.

“Pencarian sisa cairan tubuh, termasuk sperma, menjadi satu dari beberapa langkah identifikasi penting,” demikian penjelasan penyidik seperti diberitakan Tribun Jateng.

Autopsi Tak Cukup

Dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda kekerasan mencolok pada tubuh korban. Namun, aparat memastikan proses penyelidikan tidak berhenti pada visum luar.

Polisi pun melakukan pengembangan dengan memeriksa cairan tubuh pada kain dan seprai, pakaian korban dan pakaian milik Basuki, obat-obatan yang ditemukan di kamar, hingga data komunikasi dari ponsel kedua pihak.

Analisis ini penting untuk memastikan apakah kematian Levi terjadi secara alamiah, karena konsumsi obat, atau akibat faktor lain yang belum terungkap.

Baca juga: AKBP Basuki Dibayangi Sanksi Etik, Polisi: Paling Berat Bisa Pemecatan

Sementara AKBP Basuki, dipastikan menjalani pemeriksaan intensif Propam Polda Jateng dan kini ditempatkan dalam patsus (penempatan khusus).

Meski belum ada keputusan pidana, Basuki terancam sanksi etik karena hadir di kamar bersama korban, diduga memiliki hubungan personal di luar ketentuan kedinasan, dan menjadi pihak yang harus dimintai klarifikasi atas bukti DNA yang sedang diteliti.

Jika hasil laboratorium membuktikan adanya jejak sperma atau DNA lain yang mengarah pada pelanggaran, sanksi etik hingga pemecatan tidak tertutup kemungkinan.

Padahal, Basuki seharusnya memasuki masa pensiun dalam dua tahun ke depan.

Mengapa Jejak Sperma Menjadi Faktor Penting?

Dari tiga sumber pemberitaan Tribun Jateng, alasan polisi memprioritaskan pencarian cairan sperma adalah karena dapat menentukan interaksi terakhir.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved