Wabah Hantavirus
Kasus Pertama Hantavirus Terdeteksi di Banten, Begini Gejalanya
Kasus pertama Hantavirus ditemukan di Banten, Kemenkes dan Dinkes perketat pengawasan bandara serta pelabuhan.
Selain itu, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala suspek Hantavirus. Dinkes Banten juga menyiapkan RSUD Kabupaten Tangerang sebagai rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging.
“Penguatan layanan medis khusus di RSUD Kabupaten Tangerang selaku rumah sakit sentinel penyakit infeksi emerging di Banten,” ujar Ati.
Pemerintah juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar ikut berperan dalam pencegahan Hantavirus. Warga diminta menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya.
“Kami meminta warga mencegah tikus masuk ke rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, dan menjaga kebersihan tempat tinggal maupun tempat kerja. Jika mengalami gejala suspek, segera datang ke fasyankes,” pungkas Ati.
Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Virus Hanta
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit virus Hanta menyusul meningkatnya temuan kasus di Indonesia serta adanya laporan kasus Hanta Pulmonary Syndrome pada kapal pesiar MV Hondius yang dilaporkan otoritas kesehatan internasional.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Andi Saguni, mengatakan hingga saat ini Indonesia belum menemukan kasus HPS.
Kasus yang terkonfirmasi di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome dengan strain Seoul Virus.
“Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” ujar dr. Andi Saguni dalam konferensi pers daring, Senin (11/5/2026).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sepanjang 2024 hingga 2026 tercatat sebanyak 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat hingga Nusa Tenggara Timur.
Tren konfirmasi kasus juga mengalami peningkatan, dari satu kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025 dan lima kasus hingga Mei 2026.
Menurut Andi, peningkatan jumlah kasus yang terlaporkan salah satunya dipengaruhi oleh penguatan kapasitas deteksi dan pemeriksaan laboratorium di Indonesia.
“Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan,” katanya.
Virus Hanta diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya. Faktor risiko utama di antaranya aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, hingga kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki.
Selain pemantauan kasus di dalam negeri, Kemenkes juga merespons notifikasi internasional terkait satu kontak erat kasus HPS dari kapal pesiar MV Hondius yang berada di Indonesia.
Kontak erat tersebut telah menjalani pemeriksaan di RSPI Sulianti Saroso dan hasil laboratorium menunjukkan negatif Hantavirus tipe HPS maupun HFRS.