Senin, 13 April 2026

Benjolan di Payudara Tak Selalu Kanker, Kenali Ciri Aman dan yang Perlu Diwaspadai

Ketika menemukan benjolan di payudara, banyak perempuan langsung panik.  Namun menurut ahli, tidak semua benjolan berarti kanker. 

Istimewa
DITEKSI DINI -  Kanker payudara masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat, terutama bagi kaum perempuan.  Data terbaru dari Globocan 2022 mencatat kanker payudara sebagai jenis kanker terbanyak di Indonesia, dengan jumlah kasus mencapai 66.271 dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dan deteksi dini meningkatkan peluang kesembuhan (IST) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Banyak perempuan langsung panik saat menemukan benjolan di payudara.
  • Namun menurut ahli, tidak semua benjolan berarti kanker
  • Dari benjolan ini bisa jadi bersifat jinak dan bisa diatasi tanpa tindakan besar.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketika menemukan benjolan di payudara, banyak perempuan langsung panik. 

Kekhawatiran itu wajar, namun menurut ahli, tidak semua benjolan berarti kanker. 

Baca juga: Deteksi Kanker Payudara, Cara Periksa Payudara Sendiri 7-10 Hari setelah Menstruasi Hari Pertama

Sebagian besar justru bersifat jinak dan bisa diatasi tanpa tindakan besar.

Dokter Spesialis Bedah dan Sub Spesialis Bedah Onkologi Dr. dr. Muh Irwan Gurnawan, Sp.B(K)Onk, dari RSUP Wahidin Sudirohusodo, menjelaskan pentingnya mengenali karakteristik benjolan di payudara agar tidak salah langkah.

“Setiap benjolan yang ada di payudara itu belum tentu kanker. Bisa saja tumor jinak, bisa juga kista atau perubahan hormonal,” ujarnya dalam talkshow kesehatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Selasa (28/10/2025). 

Baca juga: Nunung Penyintas Kanker Payudara, Sebut Ada Obat yang Diminum Seumur Hidup

Menurut dr. Irwan, pada usia muda, terutama di bawah 20 tahun, benjolan cenderung jinak dan tidak berbahaya. 

Namun risiko meningkat seiring usia. Pada perempuan berusia 35 tahun ke atas, keberadaan benjolan perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda awal kanker.

Benjolan yang dicurigai berbahaya biasanya keras, tidak dapat digerakkan, dan disertai pembesaran kelenjar di ketiak. 

Kadang, kulit di sekitar payudara tampak seperti “kulit jeruk” atau mengalami tarikan pada puting. 

Bila sudah muncul luka berdarah, umumnya kanker telah berada di tahap lanjut.

Yang menarik, banyak kasus kanker payudara justru tidak menimbulkan rasa nyeri.

“Biasanya yang mengarah ke kanker malah tidak nyeri. Karena pasien pikir tidak sakit, jadi dibiarkan saja,” tutur dr. Irwan.

Rasa Nyeri Bukan Patokan

Ia menegaskan, rasa nyeri bukan patokan utama. 

Justru karena tidak nyeri, banyak pasien menunda pemeriksaan, sehingga penyakit berkembang diam-diam. 

Untuk itu, pemeriksaan payudara mandiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis (SADANIS) sangat dianjurkan, terutama bagi perempuan usia produktif.

Baca juga: Bukan Sekadar Turnamen, Pinktober 2025 Gaungkan Deteksi Dini Kanker Payudara

Bila ditemukan benjolan, langkah awal adalah melakukan USG payudara

Pemeriksaan ini bisa membantu membedakan apakah benjolan bersifat padat (tumor) atau berisi cairan (kista). 

Kini, layanan USG payudara sudah tersedia di banyak puskesmas sebagai bagian dari program deteksi dini Kemenkes.

Selain faktor usia, hormon juga berperan besar dalam munculnya benjolan. 

 

Perubahan kadar hormon menjelang menstruasi, misalnya, dapat menyebabkan payudara terasa lebih padat. 

Kondisi ini bersifat sementara dan akan hilang setelah siklus haid selesai.

Namun, jika benjolan menetap atau terus membesar, pemeriksaan medis wajib dilakukan. 

Dr. Irwan menekankan agar masyarakat tidak menunggu munculnya benjolan baru memeriksakan diri. 

Pemeriksaan rutin, katanya, jauh lebih efektif untuk mencegah kanker berkembang.

Pemeriksaan USG dapat mendeteksi tumor berukuran 0,5–1 cm yang belum bisa diraba secara manual. 

Karena itu, perempuan disarankan melakukan skrining rutin mulai usia 25 tahun, terutama bila ada riwayat keluarga dengan kanker.

Kementerian Kesehatan RI juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu memanfaatkan fasilitas pemeriksaan di puskesmas. 

Pemeriksaan dini bukan hanya upaya penyelamatan, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

“Benjolan tidak selalu berarti kanker, tapi setiap perubahan harus diperhatikan,” pesan dr. Irwan.

Dengan mengenali gejala sejak awal, perempuan dapat melindungi diri dari risiko yang lebih besar, sekaligus menumbuhkan budaya deteksi dini yang masih rendah di Indonesia.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved