Tribunners / Citizen Journalism

Virus Corona Varian B.1.617 dari India Sudah Menjadi VOI WHO

Kita ketahui bahwa varian dan mutasi baru merupakan salah satu faktor peningkatan kasus di India.

HO/TRIBUNNEWS
Prof Tjandra Yoga Aditama 

Prof Tjandra Yoga Aditama

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI

Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

TRIBUNNEWS.COM - Kita ketahui bahwa varian dan mutasi baru merupakan salah satu faktor peningkatan kasus di India.

Selain sudah ada berbagai Variant of Concern (VOC) sesuai World Health Organization (WHO) yang sudah dikenal luas seperti B.1.1.7 yang sudah ditemukan di 128 negara termasuk Indonesia, B1.351 yang awalnya dilaporkan dari Afrika Selatan serta kini ada di 70 negara, dan P1 yang pertama dilaporkan di Brazil dan Jepang dan lalu sekarang ada di 45 negara, maka India juga juga melaporkan dua varian baru, yaitu B.1.617 dan B.1.618.

Selama masih dalam pengamatan maka varian-varian baru ini dikelompokkan dalam Variant under Investigation (VUI), kalau bukti ilmiah sudah mulai ada maka masuk dalam Variant of Interest (VOI) dan kalau bukti ilmiah makin jelas maka dikelompokkan dalam VOC yang sekarang ada 3 jenis seperti yang di tulis di atas.  

Sejak akhir April 2021 maka WHO sudah menggolongkan galur varian B.1.617 sebagai VOI. Sampai 27 April 2021 sudah ada lebih dari 1200 sekuens varian ini yang masuk dalam data GISAID dari 17 negara di dunia, sebagian besar tentu dari India tapi juga ada dari Inggris, Amerika Serikat dan tetangga dekat kita Singapura.

Dari analisa lebih lanjut maka ternyata varian ini ada berbagai bentuknya pula, seperti B.1.617.1, B.1.617.2 dan B.1.617.3. Yang B.1.617.1 dan B.1.617.2 pertama kali diidentifikasi di India pada Desember 2020 dan jumlahnya juga meningkat sejalan dengan peningkatan kasus yang ada sekarang ini.

Jenis yang B.1.617.3 pertama kali dideteksi di India pada Oktober 2020, dan memang relatif jarang sekarang ini.

Yang juga menarik adalah sebagian mutasi dalam varian  B.1.617 ternyata sudah pernah dilaporkan pada VOC dan VOI lain terdahulu. Tiga karakteristik varian ini adalah L452R, P681R, dan E484Q (pada B.1.617.1 dan B.1.617.3).

L452R misalnya juga terdapat pada VOI lain yaitu B.1.427/ B.1.429 yang berhubungan dengan peningkatan penularan dan juga sebagian pengurangan netralisasi di Amerika Serikat. P681R juga diduga dapat meningkatkan penularan.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa E484Q nampaknya dapat menurunkan netralisasi, jadi mungkin saja berpengaruh pada efikasi vaksin.

Penelitian pendahuluan berskala kecil, 17 sampel plasma konvalesens dan 28 sampel vaksin Novavax-Covaxin ternyata berhubungan dengan netralisasi varian B.1.617 ini. Studi awal modelling oleh WHO berdasar sekuens yang dimasukkan ke GISAID menduga bahwa varian B.1.617 punya kemungkinan berkembang (“growth rate”) lebih tinggi dari varian lain yang ada di India.

Secara umum tentu masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan data-data yang lebih valid tentang dampak varian B.1.617 ini, utamanya bagaimana dampak epidemiologinya dalam hal penularan, berat ringannya penyakit, kemungkinan infeksi ulangan dan dampaknya pada vaksin.

Untuk kita di Indonesia perlu melakukan upaya keras untuk membatasi kemungkinan perkembangannya di negara kita agar tidak makin membebani situasi COVID-19 kita.

Disampaikan pula disini jenis-jenis VOI lain sesuai daftar WHO, yaitu B.1.525, B.1.427/ B.1.429, B.1.1.28.2, alias P.2, B.1.1.28.3 alias P.3, B.1.526 dengan E484K atau S477N dan B.1.616.(*)

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved