Minggu, 31 Agustus 2025

Tribunners / Citizen Journalism

Fenomena Truth Decay dan Kompleksitas Informasi Publik

PEMERINTAH menghadapi tantangan sangat kompleks dalam mengelola komunikasi publik di era revolusi digital.

Editor: Wahyu Aji
istimewa
INFORMASI PUBLIK - Staf Khusus Kantor Komunikasi Presiden Pemerintahan Prabowo - Gibran, Tjut Andjani Yuzar 

Sekalipun tidak ada fakta dasar legal formal soal kekuasaan ganda di dalam tubuh pemerintahan. Namun, batasan antara opini dan fakta dibuat kabur melalui mem-framing sejumlah peristiwa politik, seperti silaturahmi Idul Fitri yang sangat wajar dilakukan sejumlah mantan menteri era Presiden Jokowi dengan Jokowi di Solo. Peristiwa sosial itu dioplos seakan fakta untuk membangun narasi adanya matahari kembar di dalam tubuh pemerintahan.

Ketiga, dalam membangun narasi dan opini matahari kembar, tampak opini pribadi, baik opini mantan pejabat negara, pengamat politik dan influenser, yang jauh lebih dipercayai, ketimbang fakta objektif. 

Publik lebih percaya pada opini matahari kembar yang disampaikan oleh salah satu mantan pejabat negara dan opini seorang pengamat politik, ketimbang fakta objektif Presiden Prabowo adalah presiden yang sah secara konstitusional.

Keempat, narasi atau opini matahari kembar tersebut dapat menurunkan kepercayaan terhadap institusi kepresidenan. Mungkin saja tujuan dari narasi atau opini matahari kembar tersebut untuk melakukan delegitimasi dan krisis kepercayaan terhadap Presiden Prabowo. Kerentanan informasi terjadi ketika masyarakat mempercayai kekuasaan sejatinya dijalankan di balik layar. Di sinilah fenomena truth decay bekerja memperlemah pondasi konstitusional dan delegitimasi terhadap pemerintahan yang terpilih secara demokratis dan konstitusional.

Perlu ditekankan dalam menghadapi fenomena truth decay tidak cukup dengan klarifikasi secara sepotong-potong. Perlu kolaborasi atau gotongroyong antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun budaya literasi informasi, memperjelas prosedur yang membedakan antara fakta dengan opini yang direkayasa.

Akhirnya, tulisan ini ditujukan semacam “wake-up call” buat kita semua—bahwa di zaman tsunami informasi saat ini, kita harus tetap pakai akal sehat, berpihak pada data, dan tidak mudah disesatkan oleh opini dan narasi dari sumber yang tidak kredibel. Jika kita biarkan kebenaran dibusukkan oleh opini dan narasi sesat, maka legitimasi dan kepercayaan pada tatanan kenegaraan yang dibangun dengan susah payah bisa ikut runtuh.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan