Tribunners / Citizen Journalism
Wajah Buram Kebebasan Pers Indonesia: Dari Kepala Babi ke Kartu Pers Dicabut
Intimidasi jurnalis kian marak. Dari pencabutan kartu pers hingga ancaman nyawa, kebebasan pers dan demokrasi terancam punah.
Kita tidak bisa tinggal diam menyaksikan media yang dulu penuh semangat kritis, kini malah dipaksa untuk takut dan diam. Demokrasi bukan seperti bunga yang hanya mekar saat cuaca cerah. Demokrasi butuh keberanian untuk menghadapi badai.
Hanya dengan membebaskan pers dari belenggu intimidasi, Indonesia bisa bernafas lega dan melangkah maju menuju pemerintahan yang benar-benar berpihak pada rakyat.
Inilah pilihan berat yang ada pada rakyat bangsa ini. Membiarkan gelombang intimidasi membinasakan kebebasan atau berdiri tegak mempertahankan pers yang bebas sebagai benteng terakhir demokrasi.
Sebab demokrasi mati bukan karena peluru atau boikot politik semata, tapi karena mayoritas yang punya nurani diam. Karenanya jangan biarkan diam dan ketakutan mematikan kebenaran dan harapan bangsa. Pers harus tetap bebas, lantang, dan berani.
Saran Bagi Presiden dan Pers
Sudah saatnya penguasa merevisi cara pandang terhadap pers. Untuk itu beberapa saran bagi Presiden Prabowo, para pembantu dan kepala daerah;
1) Perlakukan pers sebagai mitra strategis yang jujur dan kritis bukan musuh. Menghapus segala bentuk intimidasi kepada pers.
2) Membuka saluran komunikasi langsung dengan media, agar kritik dapat diterima sebagai masukan konstruktif.
3) Memperkuat keterbukaan informasi sehingga semua fakta dapat diakses oleh pemimpin dan publik tanpa sensor.
Bagi media, ditengah tantangan berat menghadang, tanggung jawab untuk tetap berdiri tegak, menghadirkan jurnalisme yang profesional, menjaga independensi dan integritas sangat besar dan tanpa kompromi walau diterpa badai.
Beberapa saran;
1) Solidaritas antar jurnalis dan organisasi pers diperkuat demi menghadapi ancaman bersama.
2) Memanfaatkan teknologi dan data akurat untuk membongkar kebohongan yang disembunyikan kekuasaan.
3) Mengedukasi publik tentang pentingnya kebebasan pers sebagai bagian dari demokrasi sejati.
Jika kedua belah pihak, kekuasaan dan pers, dapat menjalankan peran dengan benar, Indonesia masih punya kesempatan untuk keluar dari masa kelam ini.
Tetapi jika pers terus dibungkam dan informasi dikontrol sepihak, maka nasib demokrasi kita akan redup tanpa harapan. Jangan biarkan sebuah bangsa demokratis mati dalam diam yang dipaksakan.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/sebastian-salang-nih2_20150728_165215.jpg)