Tribunners / Citizen Journalism
Menebak Arah Jakarta Usai Ukraina Disebut Pasca Konflik Iran
Invasi Rusia terhadap Ukraina sudah memasuki empat tahun, dan hilal cahaya perdamaian masihlah suram
Oleh: Dr. Algooth Putranto
Director of Community Evident Institute
Invasi Rusia terhadap Ukraina sudah memasuki empat tahun, dan hilal cahaya perdamaian masihlah suram, meski pada 24 Februari 2026, Majelis Umum PBB mengesahkan resolusi yang mendesak gencatan senjata segera dan menyeluruh di Ukraina.
Resolusi tersebut didukung 107 negara, 12 menolak, dan 51 abstain termasuk Indonesia dan Amerika Serikat. Indonesia menegaskan sikap abstain adalah konsisten dengan kebijakan luar negeri kita yang menekankan dialog inklusif dan negosiasi konstruktif.
Jika disederhanakan diksi dialog inklusif dan negosiasi konstruktif sebetulnya adalah resolusi yang diajukan cenderung terburu-buru dan sekadar satu arah.
Wajar pihak berkepentingan, Amerika Serikat pun malas menanggapi.
Nah, kurang dari jumlah jari di satu tangan, konflik besar justru meletup di wilayah lain. Kongsi Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Lima kota di Iran, termasuk Teheran, serta pangkalan Garda Revolusi Islam (IRGC) kena hajar.
Iran yang kehilangan tokoh-tokoh kuncinya balik melawan.
Banyak roket dan drone diluncurkan ke Israel dan negara-negara Teluk yang jadi pangkalan militer Amerika Serikat.
Jangkauan serangan Iran memang cukup luas, ini pula yang bikin nama Ukraina disebut.
Tak sampai 24 jam sejak Iran membalas serangan, nama Ukraina mencuat karena Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer mengatakan bahwa Inggris mendatangkan “ahli dari Ukraina” untuk membantu negara-negara Teluk menembak jatuh drone Iran.
Hanya hitungan hari, kantor berita Amerika Serikat, Fox News bahkan menunjukkan kerja efektif dari drone pencegat "Amerika" yang rupanya buatan Ukraina.
Anti drone bernama Sting atau penyengat buatan Wild Hornets itu teruji untuk menghancurkan “drone bunuh diri” Rusia yang notabene menggunakan teknologi drone Iran.
Keandalan teknologi Ukraina dalam perang modern menggunakan drone sebagai elemen tempur modern tak bisa dibantah.
Bahkan aliansi militer trans Atlantik (NATO) mengakui keunggulan militer Ukraina dalam perang modern.
Awal Februari lalu, sebelum hari Valetine selama latihan militer bersandi Landak di Estonia, sejumlah 10 operator drone Ukraina mampu melakukan ‘serangan balik’ terhadap pasukan NATO.
Dalam waktu sekitar setengah hari, cukup dengan 10 orang saja, tim Ukraina mampu menghancurkan 17 kendaraan lapis baja dan melakukan 30 'serangan' terhadap sasaran lainnya. Kalang kabutlah para komandan pasukan NATO yang terlibat.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dr-algooth-putranto-1.jpg)