Tribunners / Citizen Journalism
Menebak Arah Jakarta Usai Ukraina Disebut Pasca Konflik Iran
Invasi Rusia terhadap Ukraina sudah memasuki empat tahun, dan hilal cahaya perdamaian masihlah suram
Dalam kondisi nyata, Rusia dengan hegemoni militer warisan Uni Sovyet ternyata juga gagal mencapai kemajuan berarti di front Ukraina Timur.
Ukraina melalui adaptasi teknologi menunjukkan bahwa drone dan sistem analisis medan perang mengubah pendekatan peperangan modern yang efektif dan efisien.
Baca juga: Ukraina Kirim Ahli Drone ke Timur Tengah Minggu Ini, Bantu AS Hadapi Iran
Kesempatan Indonesia
Melihat hubungan Jakarta dan Kyiv yang tidak ada masalah, keunggulan militer Ukraina yang terbukti dalam perang (battle proven) saya menilai mempelajari keunggulan komparatif militer Ukraina adalah peluang untuk dikembangkan di masa mendatang.
Saya tekankan di masa mendatang, karena bagaimana pun Indonesia masih melihat Rusia sebagai mitra penting, terlebih setelah pilihan untuk menggabungkan diri dengan aliansi BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan dan negara berkembang).
Hal ini bisa berjalan karena adanya Perjanjian Kerjasama Pertahanan Indonesia-Ukraina tahun 2016 yang menjadi dasar kerjasama antar BUMN Indonesia dan Ukraina bisa kembali dibangkitkan lebih agresif dan semakin menguntungkan.
Dengar punya dengar, peluang ini sudah dirintis antar BUMN Indonesia dan Ukraina dalam hal pengembangan beragam drone tempur maupun modernisasi alutsista yang bertujuan tercapainya automasi.
Dalam hal ini kita tidak memulai dari titik nol. Kerjasama alutsista Indonesia dengan Ukraina, meski minim tetaplah ada.
Salah satunya operasional kendaraan tempur lapis baja amfibi modern produksi Ukraina BTR-4 APC (8x8) yang digunakan oleh Korps Marinir TNI AL, untuk operasi pendaratan dan pengamanan pantai.
Sebelum pecah perang di tahun 2022, kabarnya Indonesia telah sempat meneken kesepakatan (MoU) pembelian rudal anti kapal RK-360MC Neptun (Neptune) yang menjadi bagian dari sistem pertahanan pantai berdaya jangkau sekitar 300 kilometer.
Sayang, perang berlarut dengan Rusia membuat Indonesia akhirnya mencari alternatif dengan menjajaki pembelian rudal jelajah supersonik pertahanan pantai BrahMos dari India dan dan CM-302 atau versi ekspor YJ-12 dari China.
Meski demikian, peluang kerjasama pengembangan kapasitas SDM TNI dalam adopsi perang modern maupun pertahanan udara Ukraina yang terbukti ampuh tetap berpeluang diganjal agresivitas diplomasi Rusia.
Salah satunya adalah keberhasilan Moskva untuk menekan Jakarta adalah ketika terpaksa menghentikan adopsi rudal udara ke udara Vympel R-27 atau biasa disebut AA-10 Alamo oleh NATO untuk pesawat tempur Sukhoi SU-27 dan SU-30 TNI AU.
Namun jangan berkecil hati, Indonesia juga cukup licin dalam hal berhubungan dengan Rusia, contohnya penggunaan Malyuk, senapan serbu bullpup kaliber 5,54 mm asli buatan Ukraina.
Diam-diam, tak banyak yang tahu Malyuk atau Bayi dari Ukraina itu sudah menemani IWI Tavor X95, senapan bullpup buatan Israel yang terlebih dahulu digunakan oleh pasukan khusus baret jingga, Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI AU.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dr-algooth-putranto-1.jpg)