Tribunners / Citizen Journalism
Ketika Diplomasi Berubah Menjadi Alat Paksa
Diplomasi, dalam arti yang paling sederhana, adalah cara negara-negara berusaha saling mempengaruhi tanpa harus berperang.
Namun, gagasan utama dari model ini adalah mencapai hasil bukan melalui penggunaan kekuatan paksa yang cepat, melainkan dengan membangun saling ketergantungan yang stabil di antara negara-negara dengan sistem politik dan kepentingan yang berbeda
Namun, negara-negara adidaya modern menunjukkan peningkatan dalam penggunaan kekuatan koersif.
Akan tetapi, langkah-langkah koersif modern sering kali tidak bergantung pada unjuk kekuatan militer, melainkan pada saling ketergantungan yang dimanfaatkan sebagai senjata (weaponized interdependency).
Negara-negara merasa bahwa mereka tidak lagi sekadar melakukan perdagangan satu sama lain; mereka justru menggunakan ekonomi global itu sendiri sebagai senjata.
Saling ketergantungan ini merupakan produk sampingan dari era globalisasi yang kini mulai berakhir.
Paksaan tersebut melibatkan pengendalian rantai pasokan, monopoli atas teknologi, dan langkah-langkah ekspor yang memanfaatkan kembali kendali atas infrastruktur yang menjadi tumpuan ekonomi global.
Amerika Serikat menjadi aktor sentral dalam perekonomian global pasca-Perang Dingin, karena banyak bisnis dibangun berdasarkan sistemnya.
Platform teknologi yang diciptakan oleh sistem Amerika Serikat, seperti internet dan e-commerce, menghubungkan komunikasi global.
Amerika Serikat menggunakan kekuatan ini untuk memaksakan kepentingannya kepada negara-negara lain dengan mengendalikan titik-titik krusial dalam industri global, seperti jaringan pesan keuangan SWIFT.
Namun, pemaksaan ini tidak hanya membuat negara-negara lain beradaptasi dengan taktik Amerika Serikat dengan menggunakan pengaruh ekonomi dan mengembangkan titik-titik krusial ekonomi mereka sendiri, tetapi juga membuat sistem Amerika Serikat tampak kurang menarik, karena sistem tersebut menimbulkan ketergantungan dan dipandang sebagai risiko dibandingkan dengan manfaat.
Meskipun sistem ini tampak merugikan diri sendiri, ada alasan di balik pergeseran tersebut.
Negara-negara cenderung menghindari perang terbuka karena biaya peperangan sangat mahal dan tidak dapat diprediksi.
Namun, negara-negara juga tidak ingin terlihat lemah atau pasif, sehingga diplomasi koersif menjadi jalan tengah antara kompromi dan konflik terbuka.
Selain itu, penegakan paksa dulu cenderung mengandalkan unjuk kekuatan militer, tetapi interkoneksi yang diciptakan oleh globalisasi membuat komunitas internasional lebih rentan satu sama lain, karena mereka dapat menyerang satu sama lain melalui sanksi ekonomi, kontrol ekspor, tarif, teknologi, dan sanksi energi.
Oleh karena itu, kita harus belajar dari pergeseran norma ini, karena penggunaan kekuatan koersif dapat mengancam keamanan dan stabilitas jangka panjang, sebagaimana dibuktikan oleh banyak negara yang telah menyesuaikan diri dan memanfaatkan tekanan ekonomi satu sama lain.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Muhammad-Balyan-Fauzan-Al-Laduni-Mahas.jpg)