Konflik Iran Vs Israel
Indonesia Harus Bersiap Hadapi 3 Krisis Sekaligus, Kata Ekonom Bisa Lebih Parah dari Gejolak 2008
Timur Tengah bisa berubah menjadi ladang api tak terkendali dan diketahui saat kawasan itu terbakar, dunia ikut panas.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Iran berencana menutup Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) menyerang tiga fasilitas nuklir di negara tersebut pada Minggu (22/6/2025).
Diketahui, Selat Hormuz yang terletak antara Iran dan Oman sangat strategis bagi jalur minyak, menghubungkan Teluk di Timur Tengah di utara dengan Teluk Oman di sebelah selatan dan Laut Arab di seberangnya.

Selat tersebut hanya memiliki lebar 33 kilometer di titik tersempitnya, sedangkan jalur kapal hanya sekitar 3 km di kedua arah.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat mengatakan, konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran akan mengakibatkan lebih dari sekadar korban jiwa serta reruntuhan.
Baca juga: Enam Pangkalan Militer AS yang Berpeluang Diserang Iran Kapan Saja, dari Bahrain Hingga UEA
Dampak paling langsung adalah melonjaknya harga minyak dunia, di mana Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat OPEC dan penjaga jalur kritis yakni Selat Hormuz.
"Sekitar 20 persen suplai minyak global melewati selat ini," ucap Achmad kepada Tribunnews, Senin (23/6/2025).
Ia menyampaikan, sejak kabar serangan udara dikonfirmasi, pasar berjangka minyak mentah melonjak tajam.
Dalam waktu singkat, harga minyak menyentuh 80 dolar AS per barel dari sebelumnya menyentuh 78 dolar AS per barel. Diprediksi dalam 1 minggu ke depan bila ketegangan berlanjut bisa mencapai 110 USD/barel
Bahkan, kata Achmad, jika Iran benar-benar memblokir Selat Hormuz, harga bisa menembus 150–170 dolar AS per barel.
"Efek domino dari ini sangat luas, inflasi global, biaya logistik yang membengkak, tekanan fiskal bagi negara berkembang, dan tentu saja, ancaman resesi. Negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia akan sangat terpukul," papar Achmad.

Krisis Lebih Besar dari 2008 Menghantui
Achmad menyampaikan, kawasan Timur Tengah akibat serangan Amerika akan memperluas lingkaran konflik.
Ia melihat, Houthi di Yaman sudah memperingatkan akan menyerang kapal perang AS di Laut Merah. Hizbullah di Lebanon diprediksi akan meningkatkan serangan ke utara Israel.
Milisi Syiah di Irak, Afghanistan, bahkan Suriah bisa bangkit dan melakukan serangan balasan.
"Dengan kata lain, kita tidak lagi bicara tentang perang bilateral, tapi potensi perang regional penuh," ucapnya.
Iran
minyak
Selat hormuz
Perang Iran Vs Israel
Amerika Serang Iran
Israel
Trump Serang Fasilitas Nuklir Iran
krisis
Konflik Iran Vs Israel
Israel dan Iran Jauh dari Kata Damai, Perang Bayangan Sengit Intelijen hingga Serangan Siber |
---|
Mossad Israel Sukses Rekrut 'Orang Dalam' Nuklir Iran, Teheran Eksekusi Gantung Rouzbeh Vadi |
---|
Iran Bentuk Badan Baru di Era Perang Lawan Israel: Apa Itu Dewan Pertahanan Nasional? |
---|
Termasuk Alamat Rumah, Iran Klaim Punya Profil Lengkap Para Pilot Israel yang Ikut Perang |
---|
Iran Buka Suara Soal Operasi Rahasia, Bantah Incar Warga Sendiri di Eropa dan Amerika |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.