Kamis, 23 April 2026

Danantara Ungkap 95 Persen Dividen BUMN Disumbang dari 8 Perusahaan, Banyak yang Rugi

Adapun setoran dividen BUMN 2024 senilai Rp 85,5 triliun atau mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Diaz/Tribunnews
DIVIDEN BUMN - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir ketika ditemui di sela-sela acara Antara Business Forum di Jakarta Selatan, Rabu (19/11/2025). Ia mengungkap bahwa 95 persen dividen yang disetor BUMN ke negara hanya berasal dari delapan perusahaan. 
Ringkasan Berita:

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengungkap bahwa 95 persen dividen yang disetor BUMN ke negara hanya berasal dari delapan perusahaan.

Adapun setoran dividen BUMN 2024 senilai Rp 85,5 triliun atau mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Pada tahun ini, Danantara menargetkan setoran dividen BUMN sebesar Rp 150 triliun.

Baca juga: Kementerian BUMN Laporkan Pendapatan Negara dari Deviden BUMN, Tercapai Rp85,5 T di 2024

Ia mengatakan, dari 1.060 perusahaan yang ada di bawah Danantara, jumlah BUMN yang menyumbang dividen hanya delapan perusahaan atau kurang dari 1 persen.

"Kurang dari 1 persen, yang rugi minimum 52 persen. Rugi itu pun sudah dipercantik [laporan keuangannya, red]," kata Pandu dalam acara Antara Business Forum di Jakarta Selatan, Rabu (19/11/2025).

Ia mengatakan, satu dari sekian tugas yang kini diemban Danantara adalah mengkonsolidasi perusahaan yang rugi, termasuk perusahaan dengan lini bisnis serupa.

Dia mencontohkan konsolidasi delapan perusahaan asset management milik BUMN. Semua akan dilebur menjadi satu entitas agar lebih kuat dan mampu bersaing di tingkat regional.

Kemudian, Pandu menyoroti bisnis rumah sakit yang tersebar di berbagai BUMN, termasuk di Pertamina. Ia menilai beberapa unit usaha tersebut tidak relevan dengan inti business perusahaan.

"Bisnisnya [Pertamina] oil and gas kok punya rumah sakit. Itu sekarang kami spin off. Kami bikin Danantara Hospital Group yang sebenarnya by number of beds and hospital terbesar di Indonesia," ujar Pandu.

Meski jumlahnya besar, ia mengungkap margin EBITDA rumah sakit BUMN justru paling rendah, yakni 8 persen. Padahal, perusahaan rumah sakit lain bisa mencapai 40 persen.

Nantinya, jika konsolidasi ini telah terealisasi, Danantara akan mencari satu sosok yang bisa membangun rumah sakit BUMN menjadi bersakala internasional yang berujung pada kenaikan EBITDA.

"Margin-nya bisa naik paling tidak 20 persen tahun pertama, terus bisa 40 persen. Itu langsung value perusahaan itu bisa naik 5-6 kali," ucap Pandu.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved