Selasa, 5 Mei 2026

Gejolak Rupiah

Rupiah Makin Ambruk di Atas Rp17.400 per Dolar AS, Dihantam Perang di Selat Hormuz

Ketegangan geopolitik juga terjadi antara Ukraina dan Rusia, di mana Ukraina melakukan pengeboman ke kilang minyak milik Rusia.

Tayang: | Diperbarui:
Tribunnews/Jeprima
NILAI TUKAR RUPIAH - Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 10.32 WIB, rupiah sudah melemah ke posisi Rp 17.428 per dolar AS, turun 0,20% dibanding sehari sebelumnya. 

Ibrahim menyampaikan, jika perang berlangsung secara jangka menengah dan panjang, bukan tidak mungkin harga minyak dunia bisa sentuh 200 dolar AS per barel sampai 250 dolar AS per barel.

"Impor minyak Indonesia, kita ketahui 1,5 juta barel. Dengan impor minyak, kita membutuhkan dolar AS yang cukup banyak. Bersamaan dengan itu, kuartal II 2026, banyak perusahaan membagikan dividen dan ini membutuhkan dolar AS cukup banyak," paparnya.

BI Intervensi Pasar

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea menegaskan, pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya.

Ia mencontohkan, Philippine Peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand Baht melemah 5,04 persen, India Rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile Peso melemah 4,24 persen.

"Indonesia Rupiah melemah 3,65 persen, dan Korea Won melemah 2,29 persen," kata Erwin.

Pada perdagangan pagi hari ini, rupiah Indonesia dan ringgit Malaysia memimpin pelemahan terhadap dolar AS.

Rupiah berada di level Rp17.403 per dolar AS, melemah sekitar 0,22 persen dibandingkan posisi hari sebelumnya di Rp17.365 per dolar AS.

Sementara itu, ringgit Malaysia turun 0,25% ke level 3,96 per dolar AS. 

Pelemahan juga terjadi pada peso Filipina yang turun 0,23% menjadi 61,707 per dolar AS.

Erwin menyampaikan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya. 

"Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder," tuturnya.

 Transaksi NDF merupakan kontrak derivatif valuta asing berjangka di mana penyelesaian transaksi dilakukan secara tunai (netting) berdasarkan selisih kurs, tanpa pertukaran fisik mata uang pokok. NDF umumnya digunakan untuk lindung nilai atau spekulasi mata uang negara berkembang yang dibatasi (tidak dapat diperdagangkan secara bebas/ non-convertible)

Sedangkan DNDF adalah instrumen derivatif valas terhadap Rupiah standar (plain vanilla) yang digunakan untuk lindung nilai (hedging) risiko nilai tukar di pasar domestik tanpa pertukaran pokok fisik. Penyelesaian dilakukan bersih (netting) dalam Rupiah berdasarkan selisih kurs kontrak dan kurs fixing pada tanggal jatuh tempo. 

Menurut Erwin, langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global.

"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," paparnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved