Ibadah Haji 2025
Kemenkes: Persiapan Kesehatan bagi Jemaah Haji Lansia Perlu Dukungan Keluarga dan KBIH
Jemah lansia atau lanjut usia selama ibadah haji menghadapi risiko kesehatan yang tinggi.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) Imran Pambudi menyebut, jemah lansia atau lanjut usia selama ibadah haji menghadapi risiko kesehatan yang tinggi.
Keluarga dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) berperan penting dalam memberikan pendampingan dan memastikan lansia mendapatkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka, mengatur jadwal ibadah yang fleksibel dan tidak terlalu melelahkan maupun melakukan persiapan khusus bagi Jemaah.
Baca juga: Tips Berhaji Sehat! Hindari Masalah Kesehatan yang Terjadi saat Rukun Haji, Mulai Tawaf hingga Wukuf
“Melalui dukungan keluarga, KBIH, dan pemerintah, serta persiapan kesehatan yang matang, lansia dapat melaksanakan ibadah haji dengan tenang dan khusyuk. Semoga upaya bersama ini dapat memberikan pengalaman haji yang berkesan bagi para lansia,” tutur dia di Jakarta, Senin (28/4/2025).
Diketahui, pemberangkatan haji pertama pada tahun 2025 dari Indonesia dijadwalkan pada tanggal 2 Mei 2025.
Apa Saja Risiko Kesehatan Lansia saat Ibadah Haji?
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 44 persen jemaah haji Indonesia pada tahun 2023 berusia di atas 60 tahun dengan mayoritas memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.
“Penyakit jantung menyumbang hampir 38 persen dari total kematian jemaah haji, dengan mayoritas korban berasal dari kelompok lansia,” tutur dr Imran.
Penyakit jantung koroner dan serangan jantung, adalah satu penyebab kematian terbanyak di kalangan jemaah haji lansia.
Serangan jantung sering terjadi akibat kelelahan, aktivitas fisik berlebih, dan paparan kondisi ekstrim seperti cuaca yang panas serta dehidrasi.
Selain itu, infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia merupakan kondisi kritis yang harus diawasi dengan ketat karena sistem kekebalan yang menurun pada lansia.
Baca juga: Jemaah Haji Lansia dan Risiko Tinggi Boleh Tanazul atau Dipulangkan Lebih Dulu, Ini Mekanismenya
Pencegahan serta manajemen penyakit ini memerlukan perhatian serius dari pihak penyelenggara haji dan otoritas kesehatan, melalui skrining yang ketat, penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai, dan pendampingan selama pelaksanaan ibadah haji.
Lansia cenderung memiliki sistem kekebalan tubuh yang menurun, sehingga mereka rentan terhadap infeksi saluran pernapasan. Pneumonia dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan dua kondisi yang sering terjadi dan dapat berakibat fatal.
“Perubahan imunitas akibat proses penuaan serta keberadaan penyakit penyerta seperti diabetes dan penyakit jantung semakin memperburuk kondisi tersebut,” tutur dia.
Selain penyakit jantung dan infeksi paru, lansia yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan kolesterol juga berisiko mengalami stroke atau komplikasi lain yang dapat berujung fatal.
Sekitar 73 persen jemaah haji pada periode tertentu diketahui memiliki penyakit penyerta, yang mana kombinasi dari kondisi tersebut dapat memicu gangguan akut seperti stroke atau kerusakan organ lainnya.
Untuk mengantisipasi masalah kesehatan selama Haji, lansia perlu melakukan beberapa persiapan khusus diantaranya :
1. Pemeriksaan Kesehatan Menyeluruh

Lansia harus menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap untuk memastikan mereka memenuhi syarat istitha’ah kesehatan. Pemeriksaan ini meliputi: Kondisi jantung, paru-paru, dan tekanan darah; riwayat penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi serta bagaimana kemampuan fisik untuk menjalani aktivitas ibadah haji.
2. Vaksinasi
Vaksinasi wajib seperti vaksin meningitis, vaksin polio dan vaksin influenza harus dilakukan untuk mencegah penyakit yang umum terjadi selama perjalanan haji.
3. Latihan Fisik
Lansia disarankan untuk melakukan latihan fisik ringan seperti berjalan kaki, senam lansia, atau yoga beberapa bulan sebelum keberangkatan. Latihan ini membantu meningkatkan stamina dan kekuatan fisik.
4. Konsultasi dengan Dokter

Dokter akan memberikan rekomendasi obat-obatan yang perlu dibawa selama perjalanan, termasuk obat untuk penyakit kronis dan suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh.
5. Pola Makan Sehat
Menjaga pola makan bergizi sebelum keberangkatan sangat penting. Lansia disarankan untuk mengonsumsi makanan kaya protein, vitamin, dan mineral untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
6. Persiapan Mental
Selain fisik, persiapan mental juga penting. Lansia perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi perjalanan panjang dan aktivitas ibadah yang intens. Dukungan emosional dari keluarga sangat membantu.
7. Perlengkapan Khusus
Lansia perlu membawa perlengkapan yang mendukung kenyamanan mereka, seperti: Kursi roda (jika diperlukan), obat-obatan pribadi dan pakaian yang nyaman dan sesuai dengan cuaca di Tanah Suci.
8. Edukasi dan Manasik Haji
Mengikuti manasik haji khusus lansia membantu mereka memahami tata cara ibadah dengan lebih baik dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan fisik selama pelaksanaan haji.
Ibadah Haji 2025
Kepala BP Haji: Isu Kesehatan Jemaah Haji Indonesia jadi Sorotan Arab Saudi |
---|
Kepala BP Haji Pastikan Belum Minta Tambahan Kuota Haji dari Pemerintah Arab Saudi |
---|
ICW Laporkan Dugaan Korupsi Haji 2025: Diduga Ada ASN Lakukan Pungli Makanan, Negara Rugi Rp251 M |
---|
Update 3 Jemaah Haji Hilang: Kemenag Intensifkan Pencarian Koordinasi dengan Arab Saudi |
---|
3 Jemaah Haji Lansia Hilang Sejak Mei, Timwas DPR Desak Pemerintah Segera Temukan |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.