Konflik Suriah
Israel Lancarkan 'Invasi Terdalam' ke Suriah sejak 1967, Bawa Helikopter dan Konvoi Lapis Baja
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan melancarkan “invasi terdalam” ke Suriah. IDF mengklaim berusaha mencegah senjata jatuh ke tangan yang salah
Penulis:
Febri Prasetyo
Editor:
Garudea Prabawati
TRIBUNNEWS.COM – Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan melancarkan “invasi terdalam” ke Suriah.
Israel menyasar daerah-daerah di Provinsi Quneitra dan Daraa yang berada di Suriah bagian barat daya.
Invasi itu dilakukan hari Selasa, (4/3/2025), atau beberapa jam setelah Israel melancarkan serangan di dekat Kota Tartus yang berada di pesisir.
Dikutip dari Press TV, IDF masuk lebih dalam sejumlah area di kedua provinsi itu dengan bantuan helikopter dan konvoi lapis baja.
Saksi mata mengatakan satuan-satuan militer Israel sudah menyusup ke fasilitas militer di Tel Al Mal yang berada di pinggiran ibu kota Provinsi Quneitra. Di sana IDF melakukan penggeledahan sebelum mundur kembali.
Menurut narasumber dari Suriah, invasi itu adalah invasi terdalam Israel sejak tahun 1967 tatkala pasukan Israel menduduki Dataran Tinggi Golan milik Suriah.
Invasi itu bahkan lebih jauh daripada agresi Israel ke Suriah sejak November 2024 hingga sekarang.
Sebelum invasi itu, jet-jet tempur menyerang batalion angkatan udara di dekat Tartus.
Media pemerintah Suriah mengonfirmasi serangan itu. Memang ada kerugian material akibat serangan, tetapi tidak ada laporan korban jiwa.
IDF berdalih serangan terbaru ini bertujuan untuk mencegah senjata jatuh ke “tangan yang salah”. Di samping itu, IDF mengklaim serangan itu ditujukan untuk mencegah kekerasan di Suriah menyebar hingga ke wilayah Israel.
“Sehubungan dengan perkembangan terbaru di area itu, diputuskan untuk menyerang infrastruktur di fasilitas itu,” kata IDF dikutip dari The Times of Israel.
Baca juga: Pasukan Pemerintah Suriah Dikerahkan di Selatan Damaskus untuk Akhiri Kekacauan di Desa-desa Druze
IDF menyebut pihaknya terus memantau Suriah untuk melihat apakah ada ancaman dari Suriah terhadap Israel.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memerintahkan IDF untuk bersiap untuk melakukan operasi yang nanti mungkin dilakukan untuk melindungi komunitas Druze di Suriah. Netanyahu menyinggung adanya ancaman terhadap komunitas itu.
Menurut Netanyahu, Israel bakal melakukan pembalasan apabila komunitas Druze dilukai. Dia menjanjikan dukungan penuh kepada mereka.
Selain itu, Netanyahu meminta “demiliterisasi” di provinsi-provinsi di Suriah selatan, termasuk Quneitra, Daraa, dan Sweida.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.