Konflik Iran Vs Israel
Rusia Ogah Disebut Tak Berbuat Banyak untuk Dukung Iran, Kutuk Serangan AS dan Israel ke Teheran
Rusia mengatakan mereka telah mengambil posisi yang jelas dengan mengutuk serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Penulis:
Nuryanti
Editor:
Suci BangunDS
TRIBUNNEWS.COM - Kremlin menepis kritik yang menyebut mereka tidak berbuat cukup banyak untuk mendukung Iran.
Rusia mengatakan, mereka telah mengambil "posisi yang jelas" dengan mengutuk serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengutuk apa yang disebutnya sebagai serangan AS yang "tidak dapat dibenarkan" terhadap fasilitas nuklir di Iran.
Putin menegaskan, akan mencoba membantu rakyat Iran, meskipun ia tidak memberikan rinciannya.
Sementara itu, sumber-sumber Iran mengatakan kepada Reuters awal pekan ini bahwa Teheran tidak terkesan dengan dukungan Rusia sejauh ini.
Ketika ditanya tentang perbandingannya dengan penggulingan pemimpin Suriah Bashar al-Assad tahun lalu, ketika Moskow menolak mengirim pasukan atau kekuatan udara lebih banyak untuk mempertahankan sekutunya tetap berkuasa, Kremlin mengatakan beberapa orang mencoba merusak kemitraan Rusia-Iran.
“Rusia sebenarnya mendukung Iran dengan posisinya yang jelas,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, Selasa (24/6/2025), dilansir Al Arabiya.
Peskov menambahkan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menghargai sikap Moskow saat ia bertemu Putin pada Senin (23/6/2025).
Menurutnya, masih terlalu dini untuk menilai tingkat kerusakan fasilitas nuklir Iran.
"Beberapa informasi telah masuk melalui saluran yang tepat, tetapi masih terlalu dini," kata Peskov.
"Hampir tidak ada yang memiliki pemahaman yang jelas saat ini," tegasnya.
Baca juga: Setelah Iran, Siapa Target Israel Berikutnya? Turki Masuk Bidikan Rencana Ekspansionis
Lalu, saat ditanya tentang laporan Reuters bahwa Araghchi telah membawa surat kepada Putin dari Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, Peskov mengatakan tidak ada dokumen tertulis yang diserahkan.
"Fakta bahwa ada pesan-pesan tertentu dari pimpinan Iran itu benar. Namun, laporan Reuters ini tidak benar," kata Peskov.
Gencatan Senjata Israel-Iran Berlaku
Presiden AS Donald Trump mengatakan, gencatan senjata antara Iran dan Israel berlaku pada Selasa, setelah kesepakatan awalnya gagal dan pemimpin Amerika itu menyatakan frustrasi mendalam terhadap kedua belah pihak.
Diberitakan Arab News, Israel sebelumnya menuduh Iran meluncurkan rudal ke wilayah udaranya setelah gencatan senjata seharusnya berlaku dan menteri keuangan Israel bersumpah “Teheran akan gemetar".
Namun, militer Iran membantah telah menembaki Israel, media pemerintah melaporkan — tetapi ledakan dahsyat terdengar dan sirene terdengar di seluruh Israel utara pada tengah pagi, dan seorang pejabat militer Israel mengatakan dua rudal Iran berhasil dicegat.
Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih sebelum berangkat ke pertemuan puncak NATO bahwa menurut pandangannya, kedua pihak telah melanggar perjanjian yang baru saja dibuat.
Ia mengecam Israel, sekutu dekatnya, dan mengisyaratkan Iran mungkin telah menembaki negara itu secara tidak sengaja.
Namun kemudian dia mengatakan kesepakatan itu telah diselamatkan.
“ISRAEL tidak akan menyerang Iran. Semua pesawat akan berbalik dan pulang, sambil melakukan “Gelombang Pesawat” yang bersahabat ke Iran. Tidak akan ada yang terluka, Gencatan Senjata berlaku!” kata Trump dalam unggahannya di Truth Social.
Baca juga: Netanyahu Setuju Gencatan Senjata dengan Iran, IDF Tetap Waspada, Siap Respons jika Ada Pelanggaran

Perang Dikhawatirkan Meluas
Banyak yang khawatir perang akan meluas setelah AS bergabung dalam serangan dengan menjatuhkan bom penghancur bunker selama akhir pekan dan Israel memperluas jenis target yang diserangnya.
Namun setelah Teheran melancarkan serangan balasan terbatas terhadap pangkalan militer AS di Qatar pada Senin (23/6/2025), Trump mengumumkan gencatan senjata.
Kemudian, Israel menuduh Iran melanggar gencatan senjata, tapi Iran telah membantahnya.
Seorang pejabat militer Israel yang berbicara dengan syarat anonim sesuai dengan peraturan militer mengatakan, Iran meluncurkan dua rudal ke Israel beberapa jam setelah gencatan senjata yang masih belum jelas.
"Keduanya berhasil dicegat," kata pejabat itu.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa militer membantah menembakkan rudal setelah dimulainya gencatan senjata — sambil menuduh Israel melakukan serangan.
Kantor Netanyahu mengatakan, Israel menyerang radar Iran sebagai respons atas serangan rudal Iran pada Selasa pagi — tetapi menunda serangan yang lebih besar.
“Setelah percakapan Presiden Trump dengan Perdana Menteri Netanyahu, Israel menahan diri dari serangan tambahan,” kata kantor Netanyahu.
Militer Israel mengatakan, Iran meluncurkan 20 rudal ke Israel sebelum gencatan senjata dimulai pada Selasa pagi.
Di sisi lain, Iran melancarkan serangan rudal terbatas pada hari Senin terhadap pangkalan militer AS di Qatar, sebagai balasan atas pengeboman Amerika sebelumnya terhadap fasilitas nuklirnya.
AS telah diperingatkan oleh Iran sebelumnya, dan tidak ada korban jiwa.
Pesawat tak berawak menyerang pangkalan militer di Irak, termasuk beberapa yang menampung pasukan AS, tentara Irak dan seorang pejabat militer AS mengatakan pada Selasa.
Baca juga: Prabowo Ingin Semua WNI di Iran Segera Dievakuasi
Seorang pejabat senior militer AS, yang berbicara dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang berkomentar secara publik, mengatakan pasukan AS telah menembak jatuh pesawat tak berawak yang menyerang Ain Assad di gurun di Irak barat dan di sebuah pangkalan di sebelah bandara Baghdad, sementara satu pesawat lainnya jatuh.
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dan tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di Irak.
Beberapa milisi Irak yang didukung Iran sebelumnya mengancam akan menyerang pangkalan AS jika AS menyerang Iran.
Di Israel, sebanyak 28 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang terluka dalam perang tersebut.
Serangan Israel terhadap Iran telah menewaskan 974 orang dan melukai 3.458 lainnya, menurut kelompok Aktivis Hak Asasi Manusia yang bermarkas di Washington.
Kelompok tersebut, yang telah memberikan angka korban terperinci dari kerusuhan Iran, mengatakan dari mereka yang tewas, mereka mengidentifikasi 387 warga sipil dan 268 personel pasukan keamanan.
AS telah mengevakuasi sekitar 250 warga negara Amerika dan anggota keluarga dekat mereka dari Israel melalui penerbangan pemerintah, militer, dan charter yang dimulai selama akhir pekan, kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri.
Ada sekitar 700.000 warga negara Amerika, sebagian besar dari mereka memiliki kewarganegaraan ganda AS-Israel, yang diyakini berada di Israel.
(Tribunnews.com/Nuryanti)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.