Akhiri Perang Dagang, AS-China Sepakat Gelar Perundingan di Korea Selatan
Trump dan Xi jinping setuju untuk menggelar pembicaraan lanjutan di Korea Selatan, meredakan ketegangan perang dagang yang berlangsung bertahun-tahun.
Isu ketiga yang akan mendominasi pembicaraan adalah pengolahan logam tanah jarang (rare earth elements), bahan penting dalam industri pertahanan dan teknologi tinggi.
China, yang menguasai lebih dari 70 persen pasokan global logam tanah jarang, baru-baru ini memperketat kontrol ekspornya, memicu gejolak di pasar komoditas internasional.
Trump menilai kebijakan itu “terlalu agresif” dan berpotensi mengguncang rantai pasok industri global.
Oleh karena itu, kedua pemimpin diperkirakan akan membahas kesepakatan pasokan jangka panjang yang menjamin akses stabil terhadap sumber daya strategis tersebut.
Selain isu tarif dan komoditas, Trump dan Xi juga diperkirakan akan membahas stabilitas keuangan global, termasuk peran Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia dalam menengahi kebijakan ekonomi antarnegara besar.
Pertemuan Trump dan Xi di Korea Selatan akan menjadi yang pertama sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025, dan dipandang sebagai momen penting untuk memulihkan kepercayaan dunia terhadap stabilitas ekonomi internasional.
Jika berhasil mencapai kesepakatan konkret, kedua negara tidak hanya akan mengakhiri perang dagang, tetapi juga membuka era baru kerja sama ekonomi strategis antara Washington dan Beijing.
Dukungan dari Dunia Internasional
Kesepakatan AS–China ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak internasional.
Dalam konferensi pers di Washington, Komisaris Ekonomi Uni Eropa Valdis Dombrovskis menyatakan bahwa negara-negara anggota G7 telah sepakat untuk mengkoordinasikan langkah menghadapi kebijakan ekspor baru China dan mendorong stabilitas pasar global.
Sementara itu, Kepala Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, juga menyambut baik langkah ini.
Mengingat selama ini Perang dagang antara AS dan China akibat pengetatan ekspor logam tanah jarang China memicu ancaman tarif 100 persen dari Presiden Donald Trump.
Hingga membuat pasar global terguncang, menyebabkan penurunan investasi, gangguan rantai pasok, dan kenaikan harga barang global.
(Tribunnews.com / Namira)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TRUMP-XI-JINPING-Pertemuan-antara-Donald-Trump-dan-Xi-Jinping.jpg)