Kamis, 30 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Pakar Militer Jerman: Rusia Menggerogoti, NATO Pecah Jadi Tiga Kubu dan Terancam Runtuh

Pakar dan analis militer dari Jerman menilai jika NATO tidak menerapkan pasal 5 atas provokasi Rusia maka aliansi tersebut bisa runtuh

Tayang:
tangkap layar/NW
ALIANSI NATO - Dari kiri, bendera NATO, Estonia, dan Uni Eropa terlihat di perlintasan perbatasan Luhamaa di Luhamaa, Estonia, pada tanggal 3 Oktober 2025. Provokasi Rusia disebutkan ditujukan untuk menggerogoti aliansi NATO demi perpecahan yang terjadi soal respons balasan aliansi tersebut. 

"Anda mungkin bisa melakukannya dengan satu pilot, tetapi tidak dengan tiga pilot selama 12 menit."

Estonia kemudian menggunakan Pasal 4 piagam NATO yang menyerukan lebih banyak rapat konsultasi sebelum akhirnya memutuskan menggunakan pasal 5 atau tidak.

Namun Masala mengatakan anggota lain NATO menekankan kemungkinan kalau insiden itu mungkin merupakan kesalahan.  

"Respons negara anggota aliansi yang terpecah dapat menjadi lebih nyata di masa mendatang dan dieksploitasi oleh Moskow, yang didorong oleh kesepakatan pasca-perang Ukraina yang menguntungkan Kremlin," menurut buku Masala, yang menguraikan keadaan tindakan Rusia terhadap Estonia.  

ALIANSI NATO - Dari kiri, bendera NATO
ALIANSI NATO - Dari kiri, bendera NATO, Estonia, dan Uni Eropa terlihat di perlintasan perbatasan Luhamaa di Luhamaa, Estonia, pada tanggal 3 Oktober 2025. Provokasi Rusia disebutkan ditujukan untuk menggerogoti aliansi NATO demi perpecahan yang terjadi soal respons balasan aliansi tersebut.

Moskow Menguji Pasal 5, NATO Pecah Jadi Tiga Kubu

Serangan berskala besar terhadap satu atau lebih negara Baltik atau Polandia meningkatkan kemungkinan NATO akan menerapkan Pasal 5 secara sangat tinggi, sebuah risiko yang tidak mungkin diambil Rusia, kata Masala.   

Namun, provokasi yang lebih kecil membuat NATO lebih mungkin terbagi menjadi setidaknya dua atau bahkan tiga kubu.

Tiga kubu respons negara NATO tersebut adalah mereka yang ingin melawan segera, mereka yang ingin bernegosiasi dengan Rusia, dan mereka yang berharap semuanya segera berakhir.

Hal ini dapat dipermudah dengan pergeseran ke arah kanan dalam tiga tahun ke depan di antara para pemimpin politik di Eropa yang kurang berpihak pada NATO.

“Rusia memanfaatkan hal itu,” kata Masala. 

Bukunya menguraikan apa yang mungkin dilakukan Moskow seandainya perang Ukraina diselesaikan dengan persyaratan yang menguntungkan Moskow.

Syarat yang menguntungkan Rusia itu misalnya, seperti Kiev menyerahkan 20 persen wilayahnya dan dicegah mengejar keanggotaan NATO dengan sedikit jaminan keamanan.  

Provokasi Rusia yang lebih kecil terhadap NATO, yang dijelaskan dalam buku Masala, melibatkan invasi terbatas Rusia ke kota Narva di Estonia dengan dalih melindungi penduduk yang sebagian besar berbahasa Rusia.

"Dalih ini disebarkan melalui misinformasi dan propaganda akan digambarkan Kremlin sebagai pihak yang terancam. Hal ini diambil dari buku pedoman tindakannya di wilayah Donbas, Ukraina, pada tahun 2014," papar Masala dalam bukunya.

Kemudian tentara Rusia akan muncul di pulau Hiiumaa, Estonia, yang didukung oleh kapal perang Armada Baltik Rusia, yang dapat memblokade negara-negara Baltik, menurut buku tersebut.

"Membantu tindakannya akan berupa pengalihan di Laut Cina Selatan yang melibatkan perselisihan antara Beijing dan Filipina, dan krisis migran di Eropa Selatan," menurut skenario Masala.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved