Kamis, 7 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Pakar Militer Jerman: Rusia Menggerogoti, NATO Pecah Jadi Tiga Kubu dan Terancam Runtuh

Pakar dan analis militer dari Jerman menilai jika NATO tidak menerapkan pasal 5 atas provokasi Rusia maka aliansi tersebut bisa runtuh

Tayang:
tangkap layar/NW
ALIANSI NATO - Dari kiri, bendera NATO, Estonia, dan Uni Eropa terlihat di perlintasan perbatasan Luhamaa di Luhamaa, Estonia, pada tanggal 3 Oktober 2025. Provokasi Rusia disebutkan ditujukan untuk menggerogoti aliansi NATO demi perpecahan yang terjadi soal respons balasan aliansi tersebut. 

"Manuver ini akan menguji ketahanan masyarakat internasional dan NATO," tambahnya. 

Dalam bukunya, Masal juga mengemukakan gagasan kalau Presiden Rusia Vladimir Putin akan mengundurkan diri tetapi ambisi kekaisaran Kremlin akan tetap ada dan difokuskan untuk mendominasi Eropa Timur.

"Selama NATO bereaksi terhadap provokasi semacam ini dan AS mempertahankan kehadirannya di Eropa, sangat tidak mungkin Rusia dapat mendominasi negara-negara di Eropa Timur secara politik dan ekonomi," kata Masala.

“Namun, begitu NATO runtuh, semuanya menjadi jauh lebih mudah,” katanya lalu menambahkan, "Keruntuhan akan terjadi jika Pasal 5 tidak ditindaklanjuti. 

Berikut kutipan Tanya Jawab dengan Carlo Masala 

Apa pendapat Anda mengenai Estonia yang membunyikan alarm atas munculnya pasukan Rusia yang tidak bertanda di dekat perbatasannya pada tanggal 10 Oktober? 

“Saya pikir ini adalah aksi propaganda Rusia karena jika Anda benar-benar ingin menjadi ancaman bagi Estonia, Anda tidak akan membiarkan tujuh tentara berjalan di jalan tanpa formasi apa pun sebagai sasaran hidup.

"Ini bukan benar-benar persiapan untuk sesuatu yang mungkin akan terjadi. Ini adalah demonstrasi Rusia seolah-olah mengatakan, 'kita bisa melakukan hal-hal ini tanpa perlu takut akan konsekuensinya.'"

Namun, mungkinkah Rusia hanya sekadar menguji apa yang dapat dilakukannya secara bertahap untuk menguji NATO

Rusia menjadi semakin gegabah (nekat dan berani) dalam menguji kemampuan pencegahan NATO dan kemampuan negara-negara tertentu untuk bereaksi.

Hal ini berkaitan dengan upaya menciptakan perpecahan antara Eropa dan NATO.  

"Kita sudah mengalami provokasi ini selama dua tahun, tetapi yang kita lihat dalam beberapa bulan terakhir adalah Rusia meningkatkan permainan mereka, dengan 19 drone di Polandia dan tiga jet tempur di Estonia .   Mereka mengambil risiko yang lebih tinggi dalam provokasi mereka." 

Apakah Rusia sudah menilai kalau Pasal 5 NATO tidak akan diberlakukan dan tak punya kekuatan? 

Setelah saya menulis buku itu, mantan kepala Badan Intelijen Luar Negeri kami (Bruno Kahl) mengatakan bahwa Badan Intelijen Luar Negeri Jerman memiliki bukti bahwa ada kalangan di Moskow yang tidak lagi percaya pada Pasal 5, dan mereka ingin mengujinya. 

Saya setuju dengan interpretasi ini. Mereka (Moskow) melihat pemerintahan Trump yang bimbang antara bersikap keras terhadap Rusia atau tidak, tetapi jelas tidak bersedia berperang untuk Eropa. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved