Penembakan Massal di Australia
Lumpuhkan Penembak di Pantai Australia, Ahmed Keliru Disebut Orang Yahudi oleh Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji Ahmed al Ahmed, seorang pria yang merebut senjata pelaku kasus penembakan massal di Pantai Bondi
Pelaku mundur ke arah jembatan. Kemudian, seorang polisi tiba di tempat kejadian dan menembak pelaku dari belakang.
Tindakan heroik Ahmed menuai banyak pujian. Sejumlah warganet mengatakan Ahmed begitu berani dan aksinya bisa jadi telah menyelamatkan banyak orang.
“Seorang pahlawan Australia (warga sipil) merebut senjata dari pelaku penembakan dan melucutinya. Beberapa orang memang berani,” kata seorang warganet di media sosial X.
“Seorang warga Australia menyelamatkan banyak nyawa dengan merebut senjata penembak di Pantai Bondi. PAHLAWAN,” kata warganet lainnya.
Pujian turut disampaikan oleh Perdana Menteri Australia Anthonya Albanese.
“Para warga Australia ini adalah pahlawan dan keberaniannya telah menyelamatkan banyak nyawa,” kata Albanese dalam konferensi pers.
Tak ketinggalan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ikut memuji Ahmed.
Saya punya rasa hormat besar kepada pria yang melakukannya,” kata Trump. Dia menganggap Ahmed sebagai orang yang sangat berani.
The Jerusalem Post, salah satu media terbesar di Israel, kagum dengan aksi Ahmed.
“Ahmed adalah bagian dari orang-orang budiman,” kata media itu.
Dua pelaku penembakan
Penembakan massal itu terjadi saat perayaan Hanukkah, hari raya orang Yahudi, yang digelar oleh Chabad Bondi pada sore hari. Diperkirakan ada lebih dari 1.000 orang yang menghadirinya.
Ketika berita ini ditulis, jumlah korban jiwa telah mencapai 16 orang, termasuk seorang bocah. Adapun sebanyak 42 orang terluka, dua di antaranya adalah polisi.
Warga melaporkan mobil-mobil polisi meluncur ke TKP sekitar pukul 18.40 waktu setempat. Banyak tembakan yang terdengar. Adapun orang-orang tampak berlari menyelamatkan diri.
Polisi Australia menyebut pelaku penembakan adalah dua orang laki-laki yang berstatus ayah dan anak. Ayah berusia 50 tahun itu tewas ditembak polisi di TKP, sedangkan anaknya kini berada di rumah sakit dalam kondisi kritis, tetapi stabil.
Enam senjata milik ayah itu disita oleh polisi. Dia dilaporkan punya izin memiliki senjata api selama sekitar 10 tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ahmed-al-Ahmed-dan-Netanyahu.jpg)