Sabtu, 2 Mei 2026

Krisis Sopir Bus di Jepang, Tiga WNI Direkrut Jadi Pengemudi di Aichi

Krisis sopir bus di Jepang bikin WNI dilirik. Meitetsu Bus rekrut tiga warga Indonesia sebagai pengemudi trainee di Aichi

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Asahi TV
DIREKRUT JADI SOPIR - Dari kiri Dwi Harjanto (41), yang menjadi peserta tertua, Seto (tengah) dan Azzam (kanan). 

Pada sesi pertama, Dwi tampak tegang, namun perlahan mulai rileks. 

Dengan arahan instruktur, ia mampu melewati tikungan sempit yang menjadi tantangan utama bagi kendaraan besar seperti bus.

“Perhatikan roda belakang, belok lebih besar,” ujar instruktur.

Setelah latihan, instruktur memuji kemampuan Dwi, terutama dalam memperhatikan spion dan lingkungan sekitar.

“Sudah bagus sekali. Memperhatikan penumpang itu sangat penting. Walau belum membawa penumpang, Anda sudah bisa melakukan itu,” kata sang instruktur.

Baca juga: Hasil Klasemen Liga Arab Saudi: Tekanan Al Nassr Bungkam Al Hilal Meningkat, King Kejar Ronaldo

Usai latihan, Dwi mengaku mulai merasakan tanggung jawab besar sebagai pengemudi bus di Jepang.

“Kami membawa nyawa para penumpang. Saya ingin mengemudi dengan penuh tanggung jawab. Saya ingin anak-anak saya melihat saya bekerja di Jepang. Semua ini saya lakukan untuk keluarga,” ujarnya.

Ketiga WNI tersebut kini tinggal bersama di asrama Meitetsu Bus di depo Toyota. Mereka saling memberi dukungan dan berbagi pengalaman selama pelatihan.

Seto, salah satu peserta, mengatakan hidup bersama membuat mereka lebih mudah saling mengingatkan. 

“Kami tinggal bersama, jadi bisa saling memberi saran kalau ada yang keliru,” katanya.

Azam, peserta lainnya, menambahkan, “Kami bertiga tumbuh bersama.”

Pihak Meitetsu Bus menyebut rekrutmen tenaga asing sebagai langkah strategis menghadapi menurunnya jumlah tenaga muda di Jepang.

“Dengan populasi yang menua dan berkurangnya generasi muda, kami memandang perlu merekrut tenaga kerja asing demi masa depan,” ujar Hideaki Yokoi dari divisi SDM Meitetsu Bus.

Salah satu alasan Indonesia dipilih adalah kesamaan sistem lalu lintas.

 “Indonesia sama seperti Jepang: setir kanan dan lalu lintas kiri. Lampu lalu lintas juga serupa. Itu membuat adaptasi lebih mudah,” jelas Yokoi.

Baca juga: Beasiswa Ajinomoto 2027 ke Jepang Dibuka, Kuliah S2 Gratis dan Dapat Biaya Hidup Bulanan

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved