Konflik Rusia Vs Ukraina
Mengadu ke AS, Ukraina Butuh Bantuan Sistem Pertahanan Udara
Ukraina menyampaikan kebutuhan mendesak akan sistem pertahanan udara untuk melawan serangan Rusia dan melindungi wilayah udaranya.
Ringkasan Berita:
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan kerja sama AS dan Ukraina berjalan baik.
- Ukraina menyampaikan kebutuhan mendesak akan sistem pertahanan udara.
- Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.421 ketika Ukraina melakukan perombakan kabinet.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi telah berbicara dengan anggota Kongres Amerika Serikat (AS) dan menyampaikan kebutuhan mendesak Ukraina akan sistem pertahanan udara serta pentingnya tekanan tambahan terhadap Rusia untuk mendorong solusi diplomatik.
Selain itu, ia menegaskan kerja sama dengan Amerika Serikat terkait jaminan keamanan dan pemulihan Ukraina terus dipersiapkan.
"Saya berbicara dengan Anggota Kongres AS Lindsey Graham dan Richard Blumenthal. Saya berterima kasih atas dukungan bipartisan yang tak tergoyahkan dari Kongres. Saat ini, kami terlibat dalam pekerjaan yang sangat produktif dengan Presiden Amerika Serikat dan timnya. Kami membahas semua detailnya," kata Zelenskyy dalam pidato hariannya, Selasa (13/1/2026) malam.
"Kami membahas bagaimana tekanan tambahan terhadap Rusia dapat menghasilkan hasil diplomatik yang kuat. Dan sangat penting bagi Pemerintahan AS untuk memiliki sebanyak mungkin instrumen untuk memberikan tekanan yang tepat," ujarnya.
"Kami juga membahas program-program dukungan yang belum sepenuhnya diimplementasikan dan masih dapat digunakan. Secara khusus, ini berlaku untuk melindungi wilayah udara," lanjutnya.
Terkait situasi militer, Zelensky menyebut kondisi di garis depan masih sangat sulit, dengan pertempuran sengit di sejumlah wilayah.
Ia menekankan bahwa kekuatan pertahanan Ukraina di medan tempur menjadi kunci dalam upaya diplomasi, serta mengapresiasi peran prajurit dan seluruh pihak yang terus mempertahankan Ukraina.
Info Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.421 pada Rabu (14/1/2026).
Perang Rusia–Ukraina pecah setelah Rusia melancarkan invasi militer besar-besaran ke Ukraina pada 24 Februari 2022. Serangan ini menjadi titik puncak dari hubungan kedua negara yang telah lama diwarnai ketegangan.
Baca juga: Rusia Bombardir Kharkiv, Serangan Rudal dan Drone Sasar Rumah Sakit di Odessa
Konflik tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Akar masalahnya bermula sejak runtuhnya Uni Soviet, ketika Rusia dan Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dengan arah politik serta kepentingan keamanan yang berbeda.
Seiring waktu, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat dan menyatakan keinginannya bergabung dengan NATO serta Uni Eropa. Langkah ini dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap stabilitas dan keamanan nasionalnya.
Ketegangan semakin meningkat pada 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan yang menggulingkan pemerintahan Ukraina pro-Rusia. Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan konflik bersenjata pun pecah di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.
Meski berbagai upaya diplomasi internasional telah dilakukan, konflik tersebut tidak kunjung terselesaikan. Situasi akhirnya memanas ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022.
Rusia menyebut invasi tersebut sebagai langkah untuk melindungi warga di Donbas, menjaga keamanan nasional, serta menolak perluasan NATO ke kawasan Eropa Timur.
Sebagai respons, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan memberikan bantuan militer serta keuangan kepada Ukraina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Z3L3NSKY-3423423.jpg)