Konflik Palestina Vs Israel
Media Israel: Netanyahu Cemas Atas Meningkat Cepatnya Kekuatan Militer Mesir
Netanyahu mengatakan kepada anggota komite bahwa Israel tidak boleh puas dengan hubungan perdamaian yang ada dengan Mesir
Media Israel: Netanyahu Cemas Atas Meningkatnya Kekuatan Militer Mesir
TRIBUNNEWS.COM - Media berbahasa Ibrani mengungkap pernyataan "mengkhawatirkan" yang dibuat oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pertemuan tertutup Komite Luar Negeri dan Pertahanan di Knesset.
Laporan itu mengutip ucapan Netanyahu yang secara eksplisit memperingatkan terhadap laju persenjataan yang dimiliki tentara Mesir.
Baca juga: Ribuan Warga Mesir Geruduk Perbatasan Rafah, Kutuk Pencaplokan Israel: Gaza Adalah Garis Merah
Dia mengingatkan kalau peningkatan kekuatan militer di negara tetangga selatan Israel itu membutuhkan pengawasan yang ketat dan terus-menerus.
Menurut apa yang dipublikasikan di media berbahasa Ibrani, Netanyahu mengatakan kepada anggota komite bahwa mereka tidak boleh puas dengan hubungan perdamaian yang ada, dengan mengatakan:
"Kita harus memastikan bahwa peningkatan kekuatan militer Mesir ini tidak mencapai tingkat yang berlebihan yang dapat berubah menjadi ancaman di masa depan."
Laporan-laporan media Israel menunjukkan kalau kekhawatiran ini bertepatan dengan pertumbuhan luar biasa kemampuan angkatan laut dan udara Mesir.
Peningkatan kekuatan militer Mesir ini mendorong lembaga keamanan Israel mengevaluasi kembali "perdamaian dingin" atau (cold peace) antara kedua belah pihak.
Analisis di media berbahasa Ibrani menyimpulkan kalau kata-kata Netanyahu mencerminkan fase baru kekhawatiran Israek.
"Tel Aviv memandang curiga setiap peningkatan kekuatan militer negara mana pun di kawasan itu, bahkan negara-negara yang memiliki perjanjian damai dengannya," tulis ulasan khbrn, dikutip Jumat (6/2/2026).
Api Dalam Sekam Mesir-Israel
Hubungan Mesir dan Israel dibentuk oleh sejarah konflik terbuka yang panjang sebelum akhirnya bertransformasi menjadi relasi damai yang dingin (cold peace).
Sejak berdirinya Israel pada 1948, Mesir menjadi salah satu aktor utama negara Arab yang terlibat langsung dalam perang melawan Israel, termasuk Perang Arab–Israel 1948, Krisis Suez 1956, Perang Enam Hari 1967, dan Perang Yom Kippur 1973.
Puncak konfrontasi terjadi pada 1967 ketika Israel merebut Semenanjung Sinai dari Mesir, sebuah kekalahan strategis yang sangat memengaruhi kebijakan luar negeri Kairo selama bertahun-tahun.
Perubahan besar terjadi setelah Perang Yom Kippur 1973.
Meski tidak sepenuhnya menang, Mesir di bawah Presiden Anwar Sadat berhasil memulihkan posisi tawarnya dan membuka jalan diplomasi dengan Israel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/memperlihatkan-tentara-Mesir.jpg)