Iran Vs Amerika Memanas
Saudi Gagalkan Serangan Rudal dan Drone ke Fasilitas Strategis
Pertahanan udara Saudi cegat rudal dan drone yang menargetkan Al-Kharj dan kilang Ras Tanura di tengah eskalasi konflik kawasan
Ringkasan Berita:
- Pertahanan udara Arab Saudi mencegat tiga rudal jelajah di Al-Kharj dan menggagalkan serangan drone ke kilang Ras Tanura tanpa gangguan pasokan energi
- Serangan terjadi di tengah eskalasi konflik regional antara Israel, AS, dan Iran
- Riyadh menegaskan hak penuh untuk merespons demi menjaga keamanan dan melindungi wilayahnya
TRIBUNNEWS.COM, RIYADH — Pertahanan udara Arab Saudi berhasil mencegat tiga rudal jelajah yang menargetkan kawasan industri strategis beberapa jam setelah menggagalkan serangan drone ke fasilitas energi utama Kerajaan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, menyatakan rudal-rudal tersebut ditembak jatuh di luar Provinsi Al-Kharj, pusat industri dan pertanian di tenggara Riyadh.
Pernyataan itu dimuat oleh Kantor Berita Saudi (SPA).
Sebelumnya, pada Rabu, pertahanan udara juga menggagalkan serangan drone yang menargetkan kilang minyak Ras Tanura Refinery di Provinsi Timur.
Pejabat Kementerian Energi menyebut serangan tidak menimbulkan kerusakan maupun gangguan terhadap pasokan energi.
Meski awal pekan ini fasilitas tersebut sempat mengalami kerusakan ringan akibat puing pencegatan, otoritas memastikan serangan terbaru tidak berdampak pada infrastruktur vital.
Baca juga: Di Tengah Perang Timur Tengah, Netanyahu Mulai Khawatir Trump ‘Main Belakang’ dengan Iran
Eskalasi Ketegangan Regional
Dilansir dari Arabnews, gelombang serangan udara ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan sejak 28 Februari 2026, menyusul konfrontasi militer langsung antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Dalam beberapa hari terakhir, Arab Saudi menghadapi serangkaian ancaman. Pada 3 Maret, drone ringan dicegat di dekat Riyadh dan Al-Kharj. Di hari yang sama, serangan drone terhadap Kedutaan Besar AS di Riyadh memicu kebakaran terbatas dan kerusakan struktural ringan.
Serangan sebelumnya ke Ras Tanura juga sempat menyebabkan penangguhan sementara sebagian ekspor LPG sebagai langkah pencegahan.
Negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) — Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman — juga melaporkan agresi serupa. Serangan di kawasan Teluk disebut menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai puluhan lainnya.
Di sektor maritim, sebuah kapal komersial dilaporkan terkena rudal di lepas pantai Oman. Insiden itu memicu antrean lebih dari 150 kapal tanker di sekitar Selat Hormuz, dengan lalu lintas minyak dilaporkan merosot tajam.
GCC menggelar pertemuan luar biasa ke-50 di Riyadh pada 1 Maret 2026 untuk membahas apa yang mereka sebut sebagai “agresi Iran yang berbahaya”, sekaligus menegaskan hak kolektif negara anggota mempertahankan wilayahnya.
Dalam sidang Kabinet pada 3 Maret yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman, pemerintah Saudi menyatakan memiliki “hak penuh” untuk merespons agresi tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/suatu-ledakan-di-Arab-Saudi-Te.jpg)