Iran Vs Amerika Memanas
AS Dilaporkan Tidak Bisa Temukan Seluruh Peluncur Rudal Iran
Amerika Serikat disebut belum mampu menemukan seluruh lokasi peluncuran rudal Iran. Serangan rudal dan drone Iran terus berlanjut.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Pasukan Amerika Serikat dilaporkan belum mampu menemukan seluruh lokasi peluncuran rudal Iran.
Mengutip Iran International, Presiden AS Donald Trump mengatakan situasi berjalan dengan baik.
“Situasi dengan Iran berkembang sangat pesat. Semuanya berjalan dengan sangat baik,” kata Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis (12/3/2026) waktu setempat saat berbicara di acara Bulan Sejarah Wanita.
“Militer kita tak tertandingi. Belum pernah ada yang seperti ini. Tidak ada yang pernah melihat yang seperti ini. Dan kita melakukan apa yang harus dilakukan,” kata Trump.
Namun demikian, serangan rudal Iran terus berlanjut.
Dua pejabat militer yang tidak mau disebutkan namanya mengklaim bahwa Pentagon tidak memiliki gambaran lengkap mengenai semua lokasi peluncuran milik Iran, menurut laporan The New York Times.
Sumber-sumber tersebut mengatakan Iran masih menyimpan banyak rudal sebagai cadangan untuk menyerang target-target penting di medan perang, seperti radar Amerika yang dirancang untuk mengidentifikasi ancaman.
Laporan ini menjadi perkembangan terbaru yang menimbulkan pertanyaan tentang strategi pemerintahan Trump serta keputusan-keputusan yang diambil menjelang perang.
Beberapa pejabat menilai Trump dan para penasihatnya salah memperkirakan bagaimana Iran akan merespons.
Berbeda dengan perang 12 hari tahun lalu, Iran kini melancarkan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan militer AS di seluruh kawasan Teluk.
Kota-kota di negara-negara Arab, termasuk Dubai, juga dilaporkan terkena dampaknya.
Sebelum perang dimulai, beberapa penasihat militer telah memperingatkan bahwa Iran dapat melancarkan kampanye balasan yang agresif dan akan memandang serangan AS-Israel sebagai ancaman terhadap eksistensinya, menurut The New York Times.
Sebaliknya, penasihat lain berpendapat bahwa membunuh tokoh-tokoh senior di pemerintahan Iran dapat membuka jalan bagi para pemimpin yang lebih pragmatis untuk mengambil alih kekuasaan, yang mungkin dapat mengakhiri perang.
Baca juga: 5 Skenario Bagaimana Perang di Iran Akan Berakhir: Negosiasi hingga Model Venezuela
Rudal Apa yang Digunakan Iran dalam Pertempurannya Melawan Amerika Serikat dan Israel?
Setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026), yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior, Iran segera memberikan respons.
Iran menyatakan serangan balasannya menargetkan Israel serta situs militer yang terkait dengan Amerika Serikat di seluruh kawasan, termasuk di negara-negara Teluk yang menampung pasukan AS.
Mengutip Al Jazeera, berikut senjata-senjata yang digunakan Iran dalam serangan balasannya.
Para analis pertahanan menyebut kekuatan rudal Iran sebagai inti dari strategi militernya, baik untuk berperang maupun untuk memberikan sinyal kekuatan.
Iran memiliki berbagai jenis rudal balistik dan rudal jelajah yang dirancang untuk memberikan jangkauan serangan luas, bahkan tanpa dukungan angkatan udara modern.
Rudal balistik Iran dengan jangkauan terjauh diperkirakan mampu menempuh jarak antara 2.000 hingga 2.500 kilometer.
Artinya, rudal-rudal tersebut dapat mencapai Israel, pangkalan militer yang terkait dengan AS di seluruh kawasan Teluk, serta sebagian besar wilayah di kawasan yang lebih luas.
Rudal Jarak Pendek
Rudal balistik jarak pendek, dengan jangkauan sekitar 150 hingga 800 kilometer, dirancang untuk menyerang target militer terdekat dan melakukan serangan regional secara cepat.
Sistem utama dalam kategori ini meliputi varian Fateh seperti Zolfaghar, Qiam-1, serta rudal Shahab-1 dan Shahab-2 yang lebih lama.
Jangkauan yang lebih pendek justru dapat menjadi keuntungan dalam situasi krisis.
Rudal-rudal ini dapat diluncurkan secara beruntun, sehingga memperpendek waktu peringatan dan mempersulit upaya serangan pendahuluan dari pihak lawan.
Rudal Jarak Menengah
Jika rudal jarak pendek merupakan respons cepat Iran, maka rudal balistik jarak menengah, dengan jangkauan sekitar 1.500 hingga 2.000 kilometer, menjadikan pembalasan Iran sebagai faktor penting dalam persamaan militer regional.
Sistem seperti Shahab-3, Emad, Ghadr-1, varian Khorramshahr, dan Sejjil mendukung kemampuan Iran untuk menyerang target yang lebih jauh.
Selain itu, terdapat juga desain yang lebih baru seperti Kheibar Shekan dan Haj Qassem.
Sejjil menonjol sebagai rudal berbahan bakar padat. Jenis bahan bakar ini umumnya memungkinkan kesiapan peluncuran lebih cepat dibandingkan rudal berbahan bakar cair.
Keunggulan ini menjadi penting jika Iran memperkirakan adanya serangan yang akan datang dan membutuhkan sistem yang lebih responsif serta mampu bertahan.
Secara keseluruhan, rudal jarak menengah ini menempatkan Israel serta sejumlah fasilitas militer yang terkait dengan AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab dalam jangkauan serangan.
Hal ini memperluas daftar target Iran sekaligus meningkatkan paparan risiko bagi kawasan tersebut.
Rudal Jelajah dan Drone
Rudal jelajah terbang pada ketinggian rendah dan dapat mengikuti kontur medan.
Karena itu, rudal jenis ini sering kali lebih sulit dideteksi dan dilacak, terutama ketika diluncurkan bersamaan dengan drone atau salvo rudal balistik yang dirancang untuk membebani sistem pertahanan udara.
Iran secara luas diyakini memiliki berbagai rudal jelajah serang darat dan anti-kapal, seperti Soumar, Ya-Ali, varian Quds, Hoveyzeh, Paveh, dan Ra’ad.
Rudal Soumar diperkirakan memiliki jangkauan hingga 2.500 kilometer.
Drone juga menambah lapisan tekanan tambahan dalam operasi militer.
Meski lebih lambat dibandingkan rudal, drone lebih murah dan lebih mudah diluncurkan dalam jumlah besar.
Drone serang satu arah dapat digunakan dalam gelombang berulang untuk melemahkan pertahanan udara serta membuat bandara, pelabuhan, dan fasilitas energi berada dalam kondisi siaga selama berjam-jam, bukan hanya beberapa menit.
Para analis menilai taktik saturasi seperti ini kemungkinan akan semakin sering digunakan jika konfrontasi terus meningkat.
‘Kota Rudal’ Bawah Tanah
Jumlah rudal memang penting, tetapi dalam konfrontasi berkepanjangan, pertanyaan utamanya adalah seberapa lama Iran dapat terus meluncurkan rudal setelah menerima serangan.
Selama bertahun-tahun, Iran telah memperkuat sebagian program rudalnya dengan membangun terowongan penyimpanan bawah tanah, pangkalan tersembunyi, serta lokasi peluncuran yang terlindungi di berbagai wilayah negara tersebut.
Jaringan ini mempersulit upaya musuh untuk melumpuhkan kemampuan peluncuran rudal Iran secara cepat.
Selain itu, sistem tersebut memaksa pihak lawan untuk mengasumsikan bahwa sebagian kemampuan Iran akan tetap bertahan bahkan setelah gelombang serangan pertama yang besar.
Bagi para perencana militer, kemampuan bertahan seperti ini berarti bahwa keputusan untuk menyerang infrastruktur rudal Iran berisiko memicu konflik yang berkepanjangan, bukan sekadar kampanye militer yang singkat dan menentukan.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.