Jumat, 17 April 2026

5 Populer Internasional: Peran Kunci Khameneni dalam Gencatan Senjata - Istilah TACO Menggema

Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata dua minggu yang menjamin jalur maritim di Selat Hormuz.

Ringkasan Berita:
  • Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata dua minggu yang menjamin jalur maritim di Selat Hormuz. 
  • Mojtaba Khamenei berperan penting dalam mendorong kesepakatan, sementara ancaman Trump yang keras berakhir dengan pelunakan sikapnya. 
  • Meski gencatan senjata disambut positif, Trump tetap menghadapi tekanan politik besar termasuk seruan pemakzulan di Kongres.

TRIBUNNEWS.COM - Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat menjadi topik utama di kanal internasional Tribunnews dalam 24 jam terakhir.

Tak lama setelah pengumuman gencatan senjata, istilah TACO menggema di media sosial.

Pemimpin Tertinggi Iran juga memiliki peran kunci dalam kesepakatan tersebut.

Berikut berita selengkapnya.

1. Di Balik Gencatan Senjata AS-Iran, Peran Kunci Mojtaba Khamenei Membuat Keputusan Akhir

Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata pada jam-jam terakhir sebelum batas waktu yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra dari mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara di awal perang pada 28 Februari lalu, menjadi sosok yang mendorong para negosiatornya bergerak menuju kesepakatan, seperti dilaporkan Axios.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, berdasarkan perjanjian gencatan senjata dua minggu tersebut, lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz yang vital, jalur yang dilalui seperlima minyak dan gas global, akan dijamin.

"Transit tersebut akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis," tulis Araghchi di X.

Pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memuji gencatan senjata tersebut dan menyebutnya sebagai kemenangan bagi Amerika Serikat.

"Keberhasilan militer kita menciptakan pengaruh maksimal, memungkinkan Presiden Trump dan timnya terlibat dalam negosiasi sulit yang kini membuka peluang bagi solusi diplomatik dan perdamaian jangka panjang," katanya.

Euforia tersebut mendorong pasar saham melonjak, seiring harapan bahwa krisis yang telah mengguncang ekonomi global selama lebih dari sebulan akan segera berakhir.

Di Balik Layar

Saat Trump secara terbuka mengancam akan melakukan penghancuran massal terhadap warga Iran, tanda-tanda momentum diplomatik sebenarnya muncul di balik layar.

Pasukan AS di Timur Tengah dan para pejabat Pentagon menghabiskan jam-jam terakhir untuk bersiap melancarkan serangan pengeboman besar-besaran terhadap infrastruktur Iran, sembari menunggu arah keputusan Trump.

Sekutu di kawasan itu pun bersiap menghadapi potensi pembalasan Iran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved