Sering Salah Diagnosis, Kenali Gejala Diabetes Tipe 1 pada Anak Sejak Dini
Dokter yang tidak terbiasa menangani kasus diabetes anak, mungkin lebih fokus pada penyakit umum.
Akibatnya bisa fatal. Anak berisiko mengalami ketoasidosis diabetik (KAD), kondisi darurat medis ketika tubuh kekurangan insulin parah sehingga memecah lemak untuk energi.
Akibatnya, tubuh menghasilkan asam keton berlebih yang bisa menyebabkan koma, bahkan kematian.
Di Indonesia, banyak anak yang baru diketahui menderita diabetes tipe 1 saat sudah masuk ruang gawat darurat dalam kondisi KAD.
Hal ini memperlihatkan pentingnya deteksi dini.
Perlu Sistem yang Lebih Kuat
Salah diagnosis tidak hanya soal dokter yang kurang waspada, tetapi juga terkait sistem kesehatan.
Indonesia masih kekurangan klinik khusus diabetes anak.
“Harus ada klinik diabetes khusus. Sekarang baru ada 19, nanti 22. Dan kalau misalnya kita targetkan, ini baru 22. Kita ada 514 kabupaten kota. Saya rasa sampai 2029 belum cukup,” kata Prof. Aman.
Jumlah fasilitas kesehatan yang belum memadai membuat banyak anak di daerah kesulitan mendapatkan diagnosis dan penanganan tepat.
Selain itu, kurikulum pendidikan kedokteran juga perlu memberi porsi lebih besar pada kasus diabetes anak.
Banyak dokter muda yang lulus tanpa pernah menangani kasus ini secara langsung.
Akibatnya, saat menghadapi kasus nyata, mereka tidak langsung berpikir ke arah diabetes.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Mencegah salah diagnosis bukan hanya tanggung jawab dokter. Orang tua juga perlu proaktif. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
1. Kenali gejala klasik: banyak minum, banyak makan, banyak kencing, berat badan turun.
2. Catat perubahan perilaku anak, misalnya tiba-tiba sering ngompol lagi padahal sudah tidak, atau jadi cepat lelah.
3. Minta pemeriksaan gula darah jika anak sakit dengan gejala tidak jelas. Pemeriksaan ini sederhana dan bisa dilakukan di banyak fasilitas kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Aman-Bhakti-Pulungan-1-10092025.jpg)