Jumat, 17 April 2026

Stigma Hambat Tes HIV, Wamenkes Akui Baru 65 Persen ODHIV Terdeteksi di Indonesia

Stigma menjadi salah satu disrupsi yang berkembang di masyarakat. Sehingga mereka takut untuk jalani test takut untuk datang ke rumah sakit sendirian.

Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini
DETEKSI HIV - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes RI) Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan, estimasi orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia. Hal ini dia sampaikan dalam peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2025 di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan. Tahun ini tema peringatan adalah Global Overcoming Disruption Transforming the AIDS response. 
Ringkasan Berita:
  • Merujuk WHO, tata laksana program HIV adalah HIV adalah ABCDE.
  • Saat ini capaian Indonesia baru 65 persen yang teridentifikasi, 70 yang terobati, dan 56 yang tersupresi viral load-nya. 
  • Stigma menjadi salah satu disrupsi yang berkembang di masyarakat.
  • Sehingga mereka takut untuk tes, takut untuk datang ke rumah sakit,

 

 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes RI) Dante Saksono Harbuwono menyebutkan estimasi orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia. Dari catatan Kemenkes, ada sekitar 1,96 juta ODHIV di Indonesia namun yang teridentifikasi baru 564 ribu orang.

Baca juga: Dari Musik ke Aksi Sosial: Bongki Ismail Dukung IAC Hapus Stigma Orang dengan HIV/AIDS

"Ini artinya kami masih punya PR untuk mengidentifikasi angka HIV. Kemenkes punya target di tahun 2030, 95 yang teridentifikasi, 95 yang diobati, 95 yang tersupresi viral load-nya," kata dia dalam peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2025 di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin(1/12/2025).

Saat ini capaian Indonesia baru 65 persen yang teridentifikasi, 70 yang terobati, dan 56 yang tersupresi viral load-nya. 

Dalam memperingati Hari HIV Sedunia 2025 membawa tema Global Overcoming Disruption Transforming the AIDS response.

Tema ini menjadi pengingat perjuangan melawan HIV memerlukan pendekatan berbasis hak asasi manusia yang lebih adil dan lebih merata serta tidak membebani. Adapun kendala dalam pengobatan dan evaluasi pasien HIV adalah masalah stigma. 

Stigma menjadi salah satu disrupsi yang berkembang di masyarakat. Sehingga mereka takut untuk tes, takut untuk datang ke rumah sakit, takut menjalani pengobatan, takut untuk diketahui orang lain di tempat kerja.

Merujuk WHO, tata laksana program HIV adalah HIV adalah ABCDE.
A-nya itu adalah Assistance. B-nya adalah Be Faithful. C-nya adalah Condom for Risk Population. D-nya adalah No Drug. Dan E-nya adalah Education. 

Baca juga: Pendanaan AS untuk Indonesia Berkurang, Kemenkes Pastikan Obat dan Tes HIV Tetap Gratis

Dengan ABCDE ini, diharapkan pencapaian program penanggulangan HIV menjadi lebih nyata. "Dan yang paling penting adalah no one left behind. Tidak ada satupun yang tertinggal dalam penanggulangan HIV. Baik itu yang sudah teridentifikasi maupun yang belum teridentifikasi," tegas dia.

Pada tahun 2024, sekitar 40,8 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV. Diperkirakan 630.000 kematian terkait AIDS terjadi pada tahun yang sama, dan sekitar 5,3 juta orang tidak menyadari status mereka. Mayoritas pengidap HIV berada di Afrika sub-Sahara, dan sekitar 53 persen dari total populasi adalah perempuan dan anak perempuan. 

Baca juga: Tanggal 1 Desember Diperingati Hari HIV AIDS Sedunia, Berikut Sejarah dan Kumpulan Ucapannya

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved