Hati-Hati, RSV Bisa Picu Gagal Jantung hingga Serangan Jantung pada Lansia
Di tengah meningkatnya kasus penyakit saluran napas, Respiratory Syncytial Virus (RSV) kembali menjadi sorotan dunia medis.
RSV sulit dideteksi di Indonesia karena pemeriksaan tidak dilakukan secara rutin. Banyak pasien lansia dengan keluhan batuk pilek akhirnya tidak diperiksa virus penyebabnya, sehingga risiko terlewat.
Contoh dari Singapura menunjukkan bahwa dari pasien yang batuk pilek dan negatif influenza, sekitar 5 persen ternyata RSV. Angka ini diprediksi lebih tinggi di Indonesia.
Artinya, banyak lansia yang sebenarnya mengalami RSV tetapi tidak pernah tercatat.
*Siapa Saja Lansia yang Berisiko Berat?*
Selain faktor usia, risiko meningkat pada lansia dengan:
- Penyakit paru kronis
- Penyakit jantung
- Gangguan ginjal
- Gangguan imun
- Diabetes
- Obesitas
- Riwayat stroke
Dari semua kelompok komorbid, pasien gagal ginjal adalah yang paling tinggi risikonya—yakni 6,5 kali lipat mengalami infeksi RSV berat.
*Menghadapi Masa Depan: Pencegahan Jadi Langkah Penting*
Dr. Robert menekankan bahwa memahami RSV pada lansia bukan hanya tentang menghindari infeksi, tetapi memikirkan kesejahteraan jangka panjang.
Pemantauan harus dilakukan bahkan setelah pasien dinyatakan sembuh. Termasuk:
- Evaluasi fungsi jantung
- Pemantauan paru
- Nutrisi dan hidrasi
- Aktivitas fisik bertahap
- Pencegahan kekambuhan infeksi
Ia mengingatkan bahwa RSV harus dilihat sebagai ancaman serius bagi lansia, bukan karena mematikan saja, tetapi karena dampak panjang yang dapat menurunkan kualitas hidup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-sesak-napas.jpg)