Wabah Hantavirus
Kemenkes Minta Masyarakat Tak Panik Soal Hantavirus, Beda dengan Covid-19
Kemenkes RI mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan terkait isu penyebaran Hantavirus di tanah air.
Virus ini lebih banyak menyebar melalui hewan pengerat seperti tikus dan curut.
Paparan dapat terjadi melalui gigitan maupun cairan tubuh hewan seperti air liur, urine, dan feses.
“99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antarmanusia,” tegas Budi.
Karena itu, masyarakat diminta lebih waspada terhadap kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja, terutama area yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Pemerintah juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dapur, gudang, tempat makan, hingga area penyimpanan makanan agar tidak menjadi lokasi berkembang biaknya hewan pengerat.
Bisa Menyerang Ginjal dan Paru-paru
Secara klinis, Hantavirus yang disebabkan OrthoHantavirus dapat menimbulkan dua kondisi utama.
Pertama adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu infeksi yang menyerang ginjal dengan masa inkubasi sekitar satu hingga dua minggu.
Kedua adalah Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan dapat berkembang menjadi kondisi berat.
Hingga kini belum ada obat spesifik untuk Hantavirus. Penanganan dilakukan berdasarkan gejala yang muncul dan kondisi pasien.
Karena itu, deteksi dini dan pemantauan ketat menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi memburuk.
(Tribunnews.com/Gilang Putranto, Aisyah Nursyamsi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Infografis-Waspada-Hantavirus-di-Indonesia_20260508_220342.jpg)