Sabtu, 23 Mei 2026

Pernyataan IDAI Terkait Susu Formula di Program MBG 2026, Sebut ASI Standar Emas untuk Nutrisi Bayi

IDAI mengeluarkan pernyataan sikap terkait rencana penyediaan produk pengganti ASI dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026.

Tayang:
NATIONAL INSTITUTE OF KOREAN LANGUAGE
Ilustrasi susu formula. 

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)bereaksi dan menyatakan sikap saat susu formula masuk dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026.
  • Rencana penyediaan produk pengganti ASI ini disebut bertentangan dengan rekomendasi kesehatan global, regulasi nasional, hingga prinsip perlindungan ASI eksklusif.
  • IDAI ingatkan ASI masih menjadi standar emas untuk nutrisi bayi dan terbukti ampuh untuk tumbuh kembang si kecil.

 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan pernyataan sikap terkait rencana penyediaan produk pengganti ASI dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026.

IDAI menilai kebijakan distribusi susu formula secara massal tanpa indikasi medis berpotensi bertentangan dengan rekomendasi kesehatan global, regulasi nasional, hingga prinsip perlindungan ASI eksklusif.

Baca juga: Dampak El Nino Godzilla, IDAI Ingatkan Risiko Gizi Buruk dan Stunting pada Anak

Bagi masyarakat awam, isu ini bukan hanya soal pilihan susu untuk anak.

Masalah ini berkaitan langsung dengan hak bayi mendapatkan ASI, risiko kesehatan jangka panjang, hingga arah kebijakan gizi nasional Indonesia ke depan.

Dalam dokumen resminya, IDAI menyoroti adanya diskrepansi (ketidaksesuaian) antara Surat Edaran Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dan petunjuk teknis distribusi susu dalam Program MBG 2026.

Dalam aturan tersebut terdapat rekomendasi pemberian susu formula lanjutan dan formula pertumbuhan bagi anak usia di atas enam bulan secara luas tanpa indikasi medis spesifik.

WHO dan UNICEF Tetap Rekomendasikan ASI Eksklusif

IDAI menegaskan organisasi kesehatan dunia seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan United Nations Children's Fund (UNICEF) masih merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan.

Setelah itu, ASI tetap dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih dengan tambahan MPASI yang adekuat.

Menurut IDAI, rekomendasi tersebut bukan tanpa alasan.

Berbagai penelitian menunjukkan menyusui memiliki manfaat besar terhadap tumbuh kembang anak, daya tahan tubuh, perkembangan otak, hingga kesehatan jangka panjang ibu dan bayi.

“ASI merupakan standar emas nutrisi bayi dan anak usia dini. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih tetap menjadi rekomendasi utama berdasarkan bukti ilmiah global dan nasional,” tulis IDAI dilansir dari website resmi, Kamis (21/5/2026). 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved